BANGKOK – Thailand dan Kamboja sedang berkonflik setelah peristiwa penembakan yang menewaskan seorang tentara Kamboja pada 28 Mei 2025 di kawasan perbatasan yang disengketakan. Segitiga Zamrud merupakan area berbagi perbatasan antara Kamboja, Thailand dan Laos. Sengketa perbatasan yang berlarut-larut antara Kamboja dan Thailand berakar pada ketidakjelasan batas-batas wilayah, terutama di sekitar Kuil Preah Vihear, yang dipetakan pada masa pemerintahan kolonial Prancis dan Siam (Thailand).
Khususnya antara Kamboja dan Thailand, kedua negara berbagi area perbatasan darat sepanjang 817 kilometer. Akar masalahnya adalah pada perbedaan metode kartografi yang diyakini kedua negara. Kamboja mengacu pada peta yang dibuat oleh pemerintah kolonial Prancis yang menjajah Kamboja dari 1863 hingga 1953. Sementara, Thailand menentang peta perbatasan itu dengan mengklaim bahwa mereka telah menempati terutama area Kuil Preah Vihear di Pegunungan Dângrêk yang berdasarkan peta kolonial merupakan wilayah Kamboja.
Upaya untuk memperjelas batas wilayah itu telah ditempuh Kamboja dan Thailand melalui Mahkamah Internasional sejak tahun 1959. Tiga tahun kemudian, Mahkamah memutuskan bahwa area tersebut merupakan wilayah Kamboja. Meski Thailand sempat mematuhi keputusan itu, namun batas-batas wilayah di area itu masih menjadi sengketa.
Sejak saat itu, area perbatasan Segitiga Zamrud selalu menjadi bara dalam sekam. Naik turun eskalasi di wilayah itu sangat bergantung pada karakteristik politik yang berkuasa di kedua negara untuk mempertahankan diplomasinya masing-masing.
Ketegangan pernah terjadi pada 2008 ketika Kamboja mendaftarkan Candi Preah Vihear sebagai warisan budaya dunia di UNESCO. Pada bulan Juli tahun itu setelah penganugerahan warisan budaya dunia terhadap candi tersebut, muncul bentrokan militer antara kedua negara di perbatasan.
Bentrokan yang berlangsung hingga 2011 itu membuat 36.000 penduduk mengungsi dari wilayah tersebut. Kamboja kembali membawa persoalan itu ke Mahkamah Internasional dengan merujuk pada keputusan Mahkamah tahun 1962.
Upaya dialog bilateral antara keduanya diinisiasi oleh Thailand melalui Komisi Bersama Perbatasan (JBC) yang dibentuk pada tahun 2000. Namun, pertemuan-pertemuan yang digelar antara keduanya itu seringkali tidak membuahkan hasil.

Selama hampir 30 tahun, sebenarnya salah satu kunci dari keberhasilan untuk upaya meredakan ketegangan di wilayah perbatasan itu adalah melalui hubungan baik antara klan politik besar Thailand, yaitu keluarga Shinawatra dengan keluarga Hun Sen di Kamboja. Bahkan, dalam pergaulan internasional, Kamboja dan Thailand dianggap sebagai dua negara bersahabat.
Respon kekuatan politik domestik Thailand terhadap konflik di perbatasan ini cukup berbeda antara kelompok Partai Pheu Thai besutan Thaksin Shinawatra yang cenderung menghindari penggunaan kekuatan militer dan kelompok konservatif yang didominasi militer itu sendiri. Dalam eskalasi perbatasan tahun ini, kekuatan militer menganggap Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra tidak cukup tegas dalam mengatur konflik perbatasan dengan Kamboja.
Militer Thailand kemudian mengambil alih titik perbatasan dan mengarahkan terjadinya bentrokan senjata yang menewaskan satu serdadu Kamboja pada 28 Mei. Sejak itu, eskalasi terus terjadi, Bangkok mengancam untuk memotong pasokan listrik dan internet ke Kamboja. Hal itu dibalas dengan aksi serupa dari Kamboja yang memblokir layanan media dan distribusi film-film Thailand serta memutus jaringan internet di perbatasan.
Pada 17 Juni, Kamboja melarang impor dari Thailand dan dibalas dengan larangan penduduk Thailand untuk bekerja di kasino-kasino Kamboja serta memboikot seluruh industri perjudian Kamboja. Sehari sebelumnya, Kamboja kembali mengangkat masalah perbatasan itu ke Mahkamah Internasional yang kemudian ditolak oleh Thailand.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet (putera mantan PM Kamboja, Hun Sen) telah memperingatkan Thailand bahwa wilayah di Segitiga Zamrud yang meliputi kawasan Candi Ta Moan Thom, Ta Moan Tauch dan Ta Krabei masih menjadi wilayah sengketa dan menunggu putusan Mahkamah Internasional. “ Tidak ada satu pihak pun yang memiliki hak unilateral untuk melarang penduduk Kamboja untuk masuk ke area tersebut. Status quo harus dihormati, jika ada warga Kamboja yang dilarang masuk ke area tersebut, akan menerima konsekuensinya,” ujar Hun Manet seperti dikutip dari The Strait Times.
Telefon Hun Sen
Dalam konflik yang tengah memanas itu, upaya diplomasi PM Thailand, Paetongtarn Shinawatra terhadap Hun Sen (ayah dari PM Kamboja) dianggap tidak profesional dan memalukan Thailand. Dalam rekaman pembicaraan antara keduanya yang bocor ke publik, Paetongtarn atau Ung Ing terkesan membujuk pada Hun Sen dengan sapaan “paman” dan mengaku bahwa ia sendiri tidak suka dengan cara-cara militer yang ditempuh oleh kubu konservatif di negaranya.
Mengapa Ung Ing bisa sedekat dan seakrab itu dengan Hun Sen sebagai kubu lawan dalam konflik perbatasan ini? Dan mengapa kemudian Hun Sen membocorkan rekaman pembicaraannya dengan Ung Ing itu dan bahkan menyebutnya sebagai akhir dari persahabatannya dengan Thaksin (ayah Ung Ing)?
Mengutip dari The Nation Thailand, Kedekatan antara keluarga Shinawatra dengan Hun Sen memang telah terjalin sejak 30 tahun lalu. Mengingat usia Ung Ing saat ini yang baru menginjak 38 tahun, maka patut diduga bahwa Ung Ing besar dalam lingkungan yang dekat dengan keluarga Hun Sen tatkala ayahnya berkuasa di Thailand.
Maka, ketika Thaksin menghadapi kejaran militer dalam kudeta militer tahun 2006, Hun Sen adalah orang pertama yang memberinya perlindungan suaka dan bahkan menunjuk Thaksin sebagai penasihat ekonomi bagi pemerintah Kamboja. Saat Yingluck Shinawatra (adik Thaksin) berkuasa menjadi PM Thailand, Thaksin sering mengunjungi Hun Sen untuk bermain golf di Kamboja.

Pada kudeta 2014, Hun Sen juga yang memberi perlindungan kepada lebih dari 200 pemimpin “kaos merah”. Thaksin pernah berkata pada para anggota kelompoknya bahwa di ASEAN, ada tiga saudara yang mencintai satu sama lain; Sultan Brunei, dia sendiri dan Hun Sen. “Selama saya mengalami pengejaran, dua negara itu menjadi rumah kedua saya dalam situasi sulit,” ujarnya.
Pada 5 Agustus 2023, keluarga Thaksin menghadiri perayaan ulang tahun Hun Sen ke-71 dan saat itu Hun Sen menyebut Thaksin sebagai “god brother”. Selain Yingluck, Thaksin juga ditemani puteri bungsunya, Ung Ing dalam perayaan itu. Sedekat itulah keluarga Thaksin dengan Hun Sen yang mungkin sapaan “paman” dari Ung Ing sesungguhnya merupakan hal yang biasa.
Namun, hubungan manis antara Shinawatra dengan Hun Sen menjadi berubah drastis pada tahun ini. Hun Sen dan puteranya yang menjabat sebagai PM Kamboja, Hun Manet mulai intensif mengklaim wilayah segitiga zamrud hingga berujung pada pengerahan kekuatan militer keduanya.
Pracha Buraphawithi dalam tulisannya di The Nation Thailand menyebut bahwa dengan militer Thailand melarang para pejudi Thailand untuk memasuki Kamboja, berujung pada kebangkrutan industri kasino di sepanjang perbatasan, yang merupakan salah satu sumber kekayaan keluarga Hun Sen.
Merespon hal itu, Hun Sen membocorkan rekaman pembicaraannya dengan Ung Ing pada 15 Juni lalu. Ia bahkan menyebut bahwa persahabatan dengan keluarga Shinawatra telah berakhir.
Ini adalah manuver politik Hun Sen yang tidak pernah setia pada siapapun. Bahkan pada Pangeran Norodom Ranariddh, sekutunya saat kudeta tahun 1993 di Kamboja. Hun Sen menyingkirkannya dari politik Kamboja.
Hun Sen merasa dikhianati keluarga Shinawatra. Pun, sebaliknya keluarga Shinawatra merasa dikhianati Hun Sen yang selama ini dianggap sebagai sekutu keluarganya. Namun, kedekatan antara kedua keluarga itu dirasa menyakiti perasaan publik Thailand yang rasa nasionalismenya tengah bergelora dihidupkan oleh lawan politik klan Shinawatra; mempertahankan kedaulatan di wilayah segitiga zamrud. Entah kemana angin akan bertiup yang akan membuat bara dalam sekam zamrud segitiga membesar atau meredup.(Lina Nursanty)