WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pihaknya akan mengirimkan bantuan senjata tambahan termasuk rudal pertahanan udara “Patriot” bagi Ukraina pada Senin (14/7/2025). Di kesempatan yang sama, ia juga mengancam akan memberikan sanksi bagi pihak yang menjadi pembeli barang ekspor dari Rusia kecuali Rusia sepakat menghentikan agresinya di Ukraina. Ancaman sanksi itu akan berlaku setelah masa tunggu selama 50 hari sejak diberlakukan.
Duduk bersama Sekretaris Jendral NATO, Mark Rutte di Ruang Oval, Gedung Putih Washington DC, Trump menyampaikan pada wartawan bahwa keputusan untuk mengirim senjata bagi Ukraina diambil karena ia sangat kecewa pada Presiden Rusia, Vladimir Putin. “Kami akan membuat senjata-senjata terbaik, dan senjata-senjata itu akan dikirim ke NATO,” kata Trump seperti dikutip dari Reuters.
Senjata-senjata tersebut akan mencakup rudal pertahanan udara Patriot lengkap dengan baterainya. Trump menyatakan bahwa sebagian atau seluruh dari 17 baterai Patriot yang dipesan oleh negara lain dapat dikirim ke Ukraina dengan sangat cepat. Langkah ini juga didukung oleh NATO. Rutte menyatakan bahwa Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia, Britania Raya, Belanda dan Kanada akan menjadi bagian dari upaya mempersenjatai kembali Ukraina.
Beberapa minggu terakhir, Ukraina sangat menginginkan Patriot setelah Rusia terus menggempurnya dengan rudal dan drone. Dikutip dari CNN, Patriot sendiri adalah singkatan dari Phased Array Tracking Radar for Intercept on Target, adalah sistem pertahanan rudal utama Angkatan Darat AS.
Sistem ini baru-baru ini membuktikan kehebatannya bulan lalu, ketika membantu menembak jatuh 13 dari 14 rudal Iran yang diluncurkan dari Pangkalan Udara Al Udeid Angkatan Udara AS di Qatar. Versi terbaru pencegat Patriot mampu menghadapi rudal balistik jarak pendek, rudal jelajah, dan drone yang masuk pada ketinggian hingga 15 kilometer (9,3 mil) dan jarak hingga 35 kilometer.

Para analis mengatakan hal ini memberikan satu baterai Patriot kemampuan untuk mencakup area seluas 100 hingga 200 kilometer persegi, tergantung pada jumlah peluncur di dalam baterai, medan setempat, dan kondisi lainnya. Area tersebut bukanlah area yang luas untuk negara seukuran Ukraina, dengan total luas lebih dari 603.000 kilometer. Oleh karena itu, Kyiv membutuhkan beberapa baterai Patriot baru.
Satu baterai terdiri dari enam hingga delapan peluncur rudal, yang masing-masing mampu membawa hingga 16 pencegat, beserta radar array bertahap, stasiun kendali, dan stasiun pembangkit listrik – semuanya terpasang di truk dan trailer. Sekitar 90 orang ditugaskan untuk satu baterai Patriot, tetapi hanya tiga tentara di pusat komando dan kendali yang dapat mengoperasikannya dalam situasi pertempuran.
Terkait transfer terbaru, para pejabat AS mengatakan Patriot dapat mencapai Ukraina lebih cepat jika dipindahkan dari negara-negara sekutu NATO di Eropa ke Ukraina, dan kemudian digantikan oleh sistem yang dibeli dari AS. Trump mengatakan sebagian atau seluruh dari 17 baterai Patriot yang dipesan oleh negara lain dapat mencapai Ukraina dengan sangat cepat.
Menurut “Military Balance 2025” dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS), enam negara sekutu NATO – Jerman, Yunani, Belanda, Polandia, Rumania, dan Spanyol – memiliki baterai Patriot di gudang senjata mereka.
Sanksi Barat
Ancaman Trump untuk menjatuhkan sanksi sekunder terhadap Rusia, jika terlaksana, akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan sanksi Barat. Anggota parlemen dari kedua partai politik AS sedang mendorong RUU yang akan mengesahkan tindakan tersebut, yang menargetkan negara-negara lain yang membeli minyak Rusia.
Selama perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, negara-negara Barat telah memutuskan sebagian besar hubungan keuangan mereka dengan Moskow, tetapi menahan diri untuk tidak mengambil langkah-langkah yang akan membatasi Rusia menjual minyaknya ke negara lain. Hal ini memungkinkan Moskow untuk terus meraup ratusan miliar dolar dari pengiriman minyak ke pembeli seperti Tiongkok dan India. “Kami akan menerapkan tarif sekunder. Jika kami tidak mencapai kesepakatan dalam 50 hari, itu sangat mudah, dan tarifnya akan mencapai 100%,” ujar Trump.
DI hari yang sama, utusan Trump, Keith Kellogg menggelar pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy. Menurut Zelensky, mereka berdiskusi tentang jalur menuju perdamaian dan apa yang bisa dilakukan oleh Ukraina dan AS untuk mewujudkan itu, termasuk juga memperkuat kerjasama pertahanan udara, produksi alat pertahanan bersama dengan berkolaborasi dengan Eropa.
Sementara itu, Rusia membutuhkan waktu untuk menilai ancaman Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi berat kepada mitra dagang Moskow jika konflik Ukraina tidak diselesaikan dalam 50 hari. Pernyataan itu diungkap juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Selasa (15/7/2025).
Peskov menggambarkan pernyataan Trump sebagai “cukup serius.” “Kami tidak diragukan lagi membutuhkan waktu untuk menganalisis apa yang dikatakan di Washington. Dan jika dan ketika Presiden Putin menganggapnya perlu, beliau pasti akan mengomentarinya,” ujar Peskov seperti dikutip dari Sindonews.com.
Pada saat yang sama, Peskov meyakini perubahan posisi Trump tersebut tidak akan ditafsirkan di Kiev sebagai seruan untuk perdamaian. “Tampaknya keputusan-keputusan seperti itu yang dibuat di Washington, di negara-negara NATO, dan langsung di Brussel, dianggap oleh pihak Ukraina bukan sebagai sinyal menuju perdamaian, melainkan sebagai sinyal untuk melanjutkan perang,” ujar dia.
Peskov mengatakan Rusia tetap terbuka untuk bernegosiasi dengan Ukraina tetapi belum menerima tanggapan mengenai waktu pelaksanaannya. “Kami sedang menunggu proposal dari pihak Ukraina mengenai waktu penyelenggaraan putaran ketiga negosiasi langsung Rusia-Ukraina… Kami belum menerima proposal dari pihak Ukraina,” tandasnya. (Lina Nursanty)