Pasca Serangan Udara Israel ke Damaskus, Suriah Umumkan Gencatan Senjata 

Serangan udara besar-besaran Israel menghantam Damaskus pada hari Rabu (16/7/2025), menargetkan Kementerian Pertahanan Suriah, markas militer, dan wilayah di sekitar istana kepresidenan. Dalam foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Suriah, SANA, terlihat asap membubung akibat serangan udara Israel yang menghantam Kementerian Pertahanan Suriah. Foto : x.com/ozarabmedia
"Presiden mendesak semua pihak untuk memberikan ruang bagi negara Suriah, lembaga-lembaganya, dan pasukannya untuk melaksanakan gencatan senjata ini secara bertanggung jawab, dengan cara yang menjamin konsolidasi stabilitas dan penghentian pertumpahan darah."
Share the Post:

DAMASKUS – Kepresidenan Suriah mengumumkan pada Sabtu (19/7/2025), gencatan senjata segera dan menyeluruh. Pemerintah Suriah mulai mengerahkan pasukan keamanan ke provinsi selatan Suwayda yang tengah bergejolak. Sementara, Amerika Serikat mengerahkan upayanya untuk menengahi gencatan senjata antara Israel dan Suriah.  

“Mengingat keadaan kritis yang sedang dialami negara ini, dan atas dasar kepedulian untuk menyelamatkan nyawa warga Suriah, menjaga persatuan wilayah Suriah, keselamatan rakyatnya, dan sebagai tanggapan atas tanggung jawab nasional dan kemanusiaan, Kepresidenan Republik Arab Suriah mengumumkan gencatan senjata yang komprehensif dan segera,” demikian bunyi pernyataan Kepresidenan Suriah seperti dilansir oleh AlJazeera

“Presiden mendesak semua pihak untuk memberikan ruang bagi negara Suriah, lembaga-lembaganya, dan pasukannya untuk melaksanakan gencatan senjata ini secara bertanggung jawab, dengan cara yang menjamin konsolidasi stabilitas dan penghentian pertumpahan darah,” tambahnya. 

Perkembangan ini didahului oleh pengumuman Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack mengenai gencatan senjata beberapa jam sebelumnya. Barrack mengumumkan bahwa Israel dan Suriah telah menyepakati gencatan senjata, setelah berhari-hari terjadi pertumpahan darah di wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Druze. Dalam sebuah unggahan di X pada Sabtu dini hari, Barrack mengatakan bahwa gencatan senjata antara Suriah dan Israel “didukung” oleh Washington dan “diterima” oleh Turki, Yordania, dan negara-negara tetangga Suriah.

Dalam postingannya yang mengumumkan gencatan senjata, Barrack mengatakan AS juga menyerukan agar umat Druze, Badui, dan Sunni untuk meletakkan senjata mereka dan bersama dengan minoritas lainnya membangun identitas Suriah yang baru dan bersatu dalam perdamaian dan kesejahteraan dengan negara-negara tetangganya. 

Seorang pejabat Israel, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat bahwa mengingat “ketidakstabilan yang sedang berlangsung di Suriah barat daya”, Israel telah setuju untuk mengizinkan “masuknya pasukan keamanan internal [Suriah] secara terbatas ke distrik Suwayda selama 48 jam ke depan”.

Gencatan senjata ini merupakan perkembangan terakhir sejak serangan udara besar-besaran Israel terhadap Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus pada Rabu (16/7/2025). Serangan itu juga menyasar pasukan pemerintah Suriah di wilayah Suwayda. Israel mengklaim melancarkan serangan untuk melindungi minoritas Druze di Suwayda, Suriah, tempat bentrokan etnis terus terjadi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut kaum Druze, yang berjumlah sekitar satu juta jiwa di Suriah – sebagian besar terkonsentrasi di Suwayda – dan sekitar 150.000 jiwa di Israel, sebagai “saudara”. 

Sebuah perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh AS, Turki, dan negara-negara Arab dicapai antara para pemimpin Druze dan pemerintah Suriah pada hari Rabu. Namun, Israel melancarkan serangan udara di Suriah pada hari yang sama, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 34 orang.

Menyusul serangan Israel, Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis pagi bahwa melindungi warga negara Druze dan hak-hak mereka adalah prioritas, dan meskipun Suriah lebih suka menghindari konflik dengan Israel, negara itu tidak takut perang. Al-Sharaa menambahkan bahwa Suriah akan mengatasi upaya Israel untuk memecah belah negara itu melalui agresinya. 

Pertempuran hebat kembali berkobar antara suku Druze dan Badui di Suwayda pada hari Jumat, dan Damaskus telah mengerahkan kembali pasukan khusus untuk memulihkan ketenangan di wilayah yang mayoritas penduduknya Druze tersebut.

Etnis Druze

Dilansir dari bbc, Druze adalah minoritas etnoreligius berbahasa Arab di Suriah, Lebanon, Israel, dan Dataran Tinggi Golan. Agama Druze merupakan cabang dari Islam Syiah dengan identitas dan keyakinannya yang unik. Separuh dari sekitar satu juta pengikutnya tinggal di Suriah, di mana mereka membentuk sekitar 3% dari populasi. Komunitas Druze di Israel sebagian besar dianggap loyal kepada negara Israel, karena partisipasi anggotanya dalam dinas militer. Terdapat sekitar 152.000 orang Druze yang tinggal di Israel dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, menurut Biro Pusat Statistik Israel.

Mereka secara historis menempati posisi yang genting dalam tatanan politik Suriah. Selama perang saudara Suriah yang berlangsung hampir 14 tahun, Druze mengoperasikan milisi mereka sendiri di Suriah selatan. 

Sejak jatuhnya Assad pada bulan Desember, Druze telah menentang upaya negara untuk memaksakan kekuasaan atas Suriah selatan. Sementara faksi Druze di Suriah terbagi dalam pendekatan mereka terhadap otoritas baru, mulai dari kehati-hatian hingga penolakan langsung, banyak yang keberatan dengan kehadiran keamanan resmi Suriah di Suwayda dan menolak integrasi ke dalam tentara Suriah – sebaliknya mengandalkan milisi lokal. (Lina Nursanty)