Makin Agresif, China Bangun Pangkalan Militer di Laut China Selatan

Pesawat pengebom H6 milik Tiongkok diparkir di sebuah landasan udara di Pulau Woody, yang terletak di Kepulauan Paracel yang disengketakan, pada 19 Mei 2025. Foto : Maxar Technologies
Pangkalan-pangkalan ini meliputi pelabuhan, landasan pacu besar, lebih dari 72 hanggar jet tempur di tiga pangkalan pulau besar, emplasemen rudal permukaan-ke-udara dan rudal jelajah anti-kapal, serta banyak infrastruktur radar, penginderaan, dan komunikasi.
Share the Post:

WASHINGTON DC – China telah membangun jaringan pangkalan militer pulau seluas 3.200 hektar di Laut China Selatan, beberapa di antaranya kini mampu meluncurkan pesawat pengebom nuklir. Citra satelit terbaru yang dilacak oleh Asia Maritime Transparency Initiative di Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan seberapa jauh ekspansi Tiongkok yang pesat di kawasan tersebut.

Dilansir dari ABC News, Gregory Poling, direktur Asia Maritime Transparency Initiative, mengatakan pembangunan pangkalan tersebut mengkhawatirkan bagi Australia dan sekutu regional seperti Jepang dan AS. “China sekarang memiliki banyak infrastruktur militer di pangkalan-pangkalan ini,” ujar Poling kepada ABC News

Pangkalan-pangkalan ini meliputi pelabuhan, landasan pacu besar, lebih dari 72 hanggar jet tempur di tiga pangkalan pulau besar, emplasemen rudal permukaan-ke-udara dan rudal jelajah anti-kapal, serta banyak infrastruktur radar, penginderaan, dan komunikasi. “Pangkalan-pangkalan ini merupakan hasil dari contoh pengerukan massal dan penimbunan sampah tercepat dalam sejarah manusia,” ujarnya. 

China kini memiliki 20 pos terdepan di Kepulauan Paracel dan tujuh di Kepulauan Spratly. Empat di antaranya merupakan pangkalan angkatan laut dan udara yang beroperasi penuh. Pesawat pengebom berkemampuan nuklir kini ‘dalam jangkauan Australia.’

Citra yang diambil pada bulan Mei tahun ini, dan pertama kali dilaporkan oleh Reuters, mengungkapkan pengerahan dua pesawat pengebom berkemampuan nuklir H6K Tiongkok di Pulau Woody, di Kepulauan Paracel. Abdul Rahman Yaacob, seorang peneliti di Program Asia Tenggara Lowy, mengatakan pangkalan-pangkalan tersebut “sangat mengkhawatirkan” bagi Australia. 

Ini adalah landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang dibangun Tiongkok, jelas dengan tujuan untuk mengerahkan pesawat pengebom H6K canggih. Pesawat-pesawat pengebom ini dapat meluncurkan rudal dalam jangkauan Australia. “Tiga pangkalan di gugus kepulauan Spratly kini juga mampu mendaratkan pesawat-pesawat pengebom tersebut,” ujarnya kepada ABC.

China juga mengendalikan Beting Scarborough, yang direbutnya pada tahun 2012, melalui kehadiran penjaga pantai yang konstan. “China sedang mencoba mengubah wilayah itu menjadi danau China,” kata Dr. Yaacob.

China menganggap kepulauan tersebut sebagai perpanjangan wilayahnya yang sah, mengklaim hak historis atas Laut China Selatan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional, pangkalan-pangkalan tersebut melanggar hukum. 

Pemerintah Australia mendukung posisi tersebut. Departemen Luar Negeri dan Perdagangan mengatakan tindakan China di Laut China Selatan “sangat memprihatinkan.” China hampir tidak menduduki satu pun daratan di Laut China Selatan pada awal tahun 2010-an.

“Sejak itu, China telah membangun tujuh pangkalan militer di Kepulauan Spratly, sekitar 1.300 kilometer dari pantai daratan China, beberapa di antaranya memiliki landasan udara dan pelabuhan laut dalam,” kata Poling. 

enempatan militer di Mischief Reef mencakup sistem radar canggih, fasilitas penyimpanan rudal, dan hanggar untuk pesawat tempur. Foto: CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/Maxar

Analisis CSIS terhadap salah satu pangkalan tersebut, di Mischief Reef, menunjukkan adanya hanggar pesawat tempur, tempat perlindungan rudal, dan sistem radar frekuensi tinggi. Ini merupakan tingkat detail yang memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang kemampuan China di kawasan tersebut.

“China dapat melihat, mendengar, dan berkomunikasi di seluruh Laut China Selatan dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh negara lain, termasuk Amerika Serikat,” kata Poling.

Menurut dia, salah satu pangkalannya bahkan dapat menampung seluruh Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor milik Amerika Serikat di lagunanya dan hampir seluruh Washington DC dapat muat di dalam laguna di Mischief Reef. 

Laut China Selatan adalah salah satu lokasi paling diperebutkan di dunia, tempat perdagangan senilai lebih dari USD3 triliun melintasinya setiap tahun. “Yang dulunya merupakan titik gesekan sesekali antara Tiongkok dan negara-negara tetangganya kini telah menjadi kampanye pemaksaan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Hal ini dimungkinkan oleh pembangunan pulau-pulau besar-besaran itu,” kata Poling. 

China telah hadir di Gugusan Kepulauan Paracel sejak akhir 1950-an kemudian menempati pos terdepan pertamanya di Kepulauan Spratly pada akhir 1980-an. Awalnya merupakan pangkalan kecil, tapi sekarang China dapat melihat dan mendengar hampir semua yang terjadi di Laut China Selatan. 

Tim yang dipimpin Poling telah mendokumentasikan pembangunan pulau selama dekade terakhir. Mereka telah mempublikasikan temuan mereka secara daring. Temuan ini mengungkapkan skala dan kemampuan yang telah dikembangkan China. 

Bukan hanya China yang telah membangun pangkalan di Laut China Selatan. Vietnam juga dengan cepat membangun pangkalan sebagai respons terhadap China. Lima negara menempati hampir 70 terumbu karang dan pulau kecil yang disengketakan di Laut China Selatan. Selain Cina, negara-negara tersebut adalah Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Taiwan. Mereka telah membangun lebih dari 90 pos terdepan di wilayah yang disengketakan ini. Brunei juga mengklaim, tetapi belum membangun pangkalan di terumbu karang tersebut. “Negara-negara ini, khususnya di Asia Tenggara, sedang melawan, dengan beberapa keberhasilan, taktik koersif China. Tetapi China jelas memiliki keunggulan,” ujar Poling. (Lina Nursanty)