Terancam India, Panglima Angkatan Darat Pakistan Peringatkan Perang Nuklir Bisa Terjadi  

Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir secara terbuka memperingatkan tentang "perang nuklir" jika negaranya terancam oleh India. Sebagai negara nuklir, Pakistan bisa menghancurkan separuh dunia. Foto : x.com/NDTVWORL
“Kita (Pakistan) adalah negara nuklir. Jika kita berpikir kita akan hancur, kita akan menghancurkan separuh dunia bersama kita,”
Share the Post:

WASHINGTON – Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir secara terbuka memperingatkan tentang “perang nuklir” dari tanah Amerika. Berbicara di sebuah acara di Tampa, Florida, penguasa militer de facto Pakistan mengancam akan menghancurkan “separuh dunia” jika negaranya menghadapi ancaman eksistensial dalam perang di masa depan dengan India.

“Kita adalah negara nuklir. Jika kita berpikir kita akan hancur, kita akan menghancurkan separuh dunia bersama kita,” katanya, menurut laporan seperti dilansir dari NDTV.

Pernyataan tersebut merupakan ancaman nuklir pertama yang diketahui pernah dilontarkan dari tanah AS terhadap negara ketiga. Pernyataan tersebut dilontarkan saat makan malam yang diselenggarakan untuk Munir oleh pengusaha Adnan Asad, yang menjabat sebagai konsul kehormatan untuk Tampa.

Marsekal Lapangan Pakistan juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur apa pun yang dibangun India di sepanjang saluran air Indus—yang dapat menghambat aliran air ke Pakistan—dengan mengatakan bahwa negaranya tidak kekurangan rudal. Munir mengklaim bahwa keputusan New Delhi untuk menunda Perjanjian Perairan Indus setelah serangan teror Pahalgam pada bulan April dapat menempatkan 250 juta orang dalam risiko kelaparan.

“Kami akan menunggu India membangun bendungan, dan ketika itu terjadi, phir das missile sey faarigh kar dengey [kami akan menghancurkannya dengan 10 rudal]…Sungai Indus bukanlah milik keluarga India. Humein missilon ki kami nahin hai, al-hamdulillah [kami tidak kekurangan rudal, Alhamdulillah],” kata Munir.

Panglima Angkatan Darat Pakistan sedang dalam kunjungan keduanya ke AS dalam dua bulan. Pada kunjungan terakhirnya, dia diundang untuk menghadiri jamuan makan siang di Gedung Putih bersama Presiden Donald Trump pada 18 Juni. Selama kunjungan tersebut, dia merekomendasikan nama Presiden AS untuk Hadiah Nobel atas upaya perdamaian yang diklaimnya—sebuah usulan yang dia ulangi pada acara di Florida.

Menurut laporan, sekitar 120 anggota asal Pakistan yang berbasis di Florida menghadiri acara tersebut, di mana para peserta dilarang membawa ponsel atau perangkat digital lainnya. Seorang perwakilan Pasukan Pertahanan Israel juga dilaporkan hadir dalam acara tersebut.

Pernyataan Asim Munir itu menuai kecaman dari India. Dilansir dari India Today, sumber-sumber pemerintah yang mereka wawancarai sangat mengecam ancaman nuklir panglima Angkatan Darat Pakistan terhadap India yang dilontarkan di AS. Mereka menyebut pernyataan tersebut sangat tidak bertanggung jawab dan menyatakan bahwa setiap kali AS mendukung militer Pakistan, hal itu hanya menunjukkan warna asli mereka. Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Pakistan mempertaruhkan keamanan regional dan global. 

“Ini merupakan tanda bahwa demokrasi tidak ada di Pakistan; sebaliknya, militer mengendalikan negara. Ada bahaya nyata senjata nuklir jatuh ke tangan aktor non-negara di Pakistan,” tambah sumber-sumber tersebut.

Obsesi Nuklir 

Pada forum yang diselenggarakan bersama oleh Asosiasi Pengendalian Senjata pada Desember lalu, Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Jon Finer mengatakan bahwa Pakistan, yang diberi status “sekutu utama non-NATO” pada tahun 2004, sedang mengejar “teknologi rudal yang semakin canggih” yang pada akhirnya dapat memungkinkan negara itu untuk “menyerang target jauh melampaui Asia Selatan, termasuk Amerika Serikat.”

Menurut pejabat senior AS, Pakistan telah berupaya selama beberapa tahun untuk meningkatkan jangkauan dan kemampuan lempar rudal balistik jarak menengahnya dengan bantuan dari entitas di Belarus dan Tiongkok. Mereka mengatakan Islamabad dapat memiliki kemampuan rudal jarak jauh lebih dari 3.000 kilometer “dalam satu dekade.”

Rudal balistik Shaheen-III Pakistan, yang pertama kali diuji pada tahun 2015 dan memiliki jangkauan 2.750 kilometer, telah memberi Pakistan kemampuan untuk menyerang target mana pun di India. Dengan 170 hulu ledak nuklir berbasis plutonium pada sistem jarak pendek dan menengah, Pakistan sudah memiliki daya tembak nuklir yang cukup untuk mencegah serangan nuklir dari India dan meluluhlantakkan sebagian besar anak benua tersebut. Negara ini terus memproduksi bahan fisil dan mempertahankan opsi untuk menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu melawan ancaman militer non-nuklir.

Sementara itu, sejak 2012, India telah mengembangkan dan menguji rudal balistik antarbenua (ICBM) Agni-V, yang mampu meluncurkan beberapa hulu ledak pada jarak 5.000 kilometer dan menempatkan seluruh Tiongkok dalam jangkauan serangan nuklir yang dahsyat. Namun tidak seperti India, tidak ada alasan pencegahan nuklir yang koheren bagi Pakistan, sekutu Tiongkok, untuk memiliki rudal jarak jauh. (Lina Nursanty)