TIANJIN –Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) yang baru usai di Tianjin ditutup dengan kesan yang cukup kuat terhadap dunia. Ada satu polar ekonomi baru yang tengah menandingi unilateralisme Amerika Serikat. Tak main-main jika dua negara raksasa-India dan China- makin rekat menjalin hubungan. Ditambah dengan kehadiran Rusia di antara keduanya, rasanya membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump cukup gerah.
Terutama gerak-gerik Perdana Menteri India Narendra Modi yang menjadi sorotan utama. Beberapa hari sebelum ia menghadiri KTT SCO, India tengah dilanda kebuntuan diplomasi dengan Amerika Serikat yang tetap mengenakan tarif impor 50% kepada India. Media The Guardian menyebut hal itu sebagai sanksi perdagangan terberat yang dijatuhkan AS kepada India.
Ini adalah kunjungan pertama Modi ke Tiongkok (China) dalam tujuh tahun, dan permusuhan yang telah mewarnai hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir tidak terlihat lagi. Sebaliknya, ketika PM India tiba di Tiongkok untuk menghadiri KTT SCO, ia menerima sambutan yang jauh lebih meriah daripada kebanyakan tamu undangan lainnya.
Tampilan keintiman yang terang-terangan ini secara luas dianggap oleh para pengamat sebagai pesan perlawanan yang ditujukan kepada rekan-rekan Barat mereka, khususnya Donald Trump. “India ingin negara-negara adidaya lainnya tahu bahwa New Delhi punya pilihan,” kata Christopher Clary, profesor madya ilmu politik di University at Albany, State University of New York.
Pertemuan persaudaraan kedua pemimpin di kota Tianjin itu tak luput dari perhatian di Ruang Oval Gedung Putih. Beberapa jam setelah pertemuan tersebut, Trump kembali melontarkan omelan pedas terhadap India, menyebut perdagangan dengan negara itu sebagai “bencana sepihak”, sementara penasihat perdagangannya, Peter Navarro, mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial: “Memalukan melihat Modi bersekongkol dengan Xi Jinping dan Putin. Saya tidak yakin apa yang ia pikirkan.”
Tiongkok memanfaatkan peluang untuk penataan ulang geopolitik setelah India terkena salah satu sanksi perdagangan terberat AS. Dalam KTT SCO, Xi Jinping mengampanyekan perlunya memperkuat solidaritas “Global South” untuk menandingi hegemoni AS. Hasilnya, kelekatan antara China-India-Rusia jelas membuat Trump kelabakan.
Modi, Xi dan Putin berdiri bersama bak sahabat lama, kepala tertunduk dalam tawa riang, saling menggenggam tangan dengan penuh kasih sayang. Bahkan setahun yang lalu, situasi seperti itu antara Modi dan Xi sulit dibayangkan. Kedua negara telah berada dalam kebuntuan militer yang bermusuhan sejak tahun 2020 setelah perambahan dan serangan cepat Tiongkok di sepanjang perbatasan pegunungan Himalaya dengan India menyebabkan bentrokan sengit antara tentara kedua belah pihak.
Kejadian ini diikuti oleh mobilisasi besar-besaran personel militer, infrastruktur, dan senjata di sepanjang kedua sisi perbatasan. Sentimen anti-Tiongkok merajalela di India, dengan ratusan aplikasi Tiongkok – termasuk TikTok – dilarang dan perusahaan-perusahaan Tiongkok dilarang berinvestasi di India. Saat itu, AS telah memanfaatkan ketegangan ini untuk mempererat hubungan dekatnya dengan India, memandang negara itu sebagai penyeimbang penting bagi kebangkitan Tiongkok.
Namun, posisi kebijakan luar negeri Trump sendiri telah mempercepat semacam reposisi geopolitik. AS, yang pernah dipandang sebagai sekutu yang tak tergoyahkan bagi India, kini dipandang di New Delhi sebagai musuh yang bergejolak, bahkan bermusuhan.
Tarif ganda terhadap India, yang diumumkan Trump tanpa peringatan, tampaknya merupakan hukuman setelah berselisih dengan Modi, yang menolak memberikan penghargaan kepada presiden AS karena telah menghentikan kemungkinan perang nuklir antara India dan Pakistan pada bulan Mei. New Delhi khususnya sangat marah atas upaya Trump menggunakan tarif untuk membentuk kebijakan India.
Pertemuan “rekonsiliasi” antara Xi dan Modi memang belum diikuti dengan kesepakatan ekonomi yang detail. Namun, keduanya sepakat untuk menyelesaikan perbedaan demi kepentingan populasi kolektif mereka yang berjumlah 2,8 miliar jiwa. Mereka sepakat mengenai pentingnya menjaga perdamaian dan ketenangan di daerah perbatasan serta menegaskan kembali komitmen kami untuk bekerja sama berdasarkan saling menghormati, saling menguntungkan, dan saling memahami. BBC melaporkan, hasil langsung dari pertemuan tersebut adalah dimulainya kembali penerbangan langsung antara kedua negara dan penyederhanaan proses penerbitan visa.
Tantangan Geopolitik India
Pertemuan Modi-Xi dipandang sebagai bagian dari kebijakan “otonomi strategis” India, tetapi juga akan menimbulkan lebih banyak tantangan geopolitik bagi Delhi. Pasalnya, India dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT Quad (yang mencakup Jepang, Australia, dan AS) akhir tahun ini. Forum tersebut sebagian besar dipandang sebagai tantangan bagi dominasi Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.
Trump dilaporkan tidak akan hadir dalam KTT Quad. Tetapi jika ia hadir dan mengatakan sesuatu yang menentang Tiongkok, hal itu akan segera menguji sinergi baru antara Delhi dan Beijing. Delhi juga merupakan bagian dari beberapa forum multilateral lain yang dianggap anti-Tiongkok dan anti-Rusia.
Bagaimana Delhi memainkan otonomi strategisnya dalam beberapa bulan mendatang akan sangat memengaruhi arah hubungan India-Tiongkok. Untuk saat ini, jelas bahwa hubungan India-AS berada pada titik terendah sepanjang masa. Delhi juga secara konsisten membantah keterlibatan Trump dalam gencatan senjata antara India dan Pakistan pada bulan Mei – hal ini terus-menerus menjadi sumber kekesalan bagi presiden AS.
Meskipun demikian, India telah menahan diri untuk tidak mengenakan tarif balasan terhadap AS dan tetap membuka peluang negosiasi lebih lanjut. Bagaimanapun, AS adalah mitra dagang terbesar India. Akankah hubungan yang lebih dekat dengan Tiongkok membantu negosiasi India dengan AS atau justru akan berdampak sebaliknya? Pertanyaan inilah yang kemungkinan akan mendominasi diskusi geopolitik di Delhi dan sekitarnya dalam beberapa bulan mendatang. (Lina Nursanty)