ANKARA – Turki menandatangani kesepakatan pembelian 20 pesawat tempur Eurofighter Typhoon dari Inggris senilai 8 miliar poundsterling atau senilai Rp 176 Triliun. Ini adalah kesepakatan ekspor jet tempur terbesar dalam satu generasi sejak tahun 2017. Diperkirakan pembelian pesawat itu menciptakan 20.000 lapangan kerja selama beberapa tahun mendatang di Inggris.
Perjanjian ini ditandatangani saat Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer mengunjungi Ankara dan bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan saat meninjau fasilitas kedirgantaraan Turki. Rilis resmi dari Pemerintah Inggris, gov.uk menyatakan bahwa kesepakatan ini akan mendukung lini produksi Typhoon di lapangan terbang Warton milik BAE Systems, lini produksi di Edinburgh, Warton, Salmesbury, dan Bristol.
Pemerintah Inggris sangat senang dengan kesepakatan ini yang menyebutnya tak hanya memperkuat kemampuan tempur canggih Turki, melainkan juga memperkuat NATO di kawasan penting serta meningkatkan interoperabilitas antara kedua angkatan udara.
Tampaknya industri pertahanan Inggris tengah banyak dilirik oleh pasar Eropa. Beberapa pekan sebelumnya, fregat tipe 26 Inggris juga dipinang oleh Norwegia senilai 10 miliar poundsterling atau Rp 220,7 Triliun dan menciptakan 4.000 lapangan kerja.
Kedua kesepakatan ini menggarisbawahi upaya pemerintah untuk menjadikan pertahanan sebagai mesin pertumbuhan, menyediakan lapangan kerja berkeahlian tinggi, dan memberikan pemasukan bagi para pekerja. “Perjanjian penting dengan Turki ini merupakan kemenangan bagi para pekerja Inggris, kemenangan bagi industri pertahanan kami, dan kemenangan bagi keamanan NATO,” ujar Starmer.
Perjanjian kerja sama Typhoon memastikan lebih dari sepertiga (37%) dari setiap pesawat diproduksi di Inggris; sisanya akan diproduksi oleh Negara Mitra Eurofighter. Pekerjaan di Inggris meliputi 6.000 pekerjaan di lokasi BAE Systems di Warton dan Samlesbury, tempat produksi dan perakitan akhir; sebanyak 1.100 pekerjaan di wilayah Barat Daya yang mencakup Rolls-Royce di Bristol untuk memproduksi modul dan komponen penting untuk mesin jet EJ200 Typhoon dan bertindak sebagai pusat utama untuk perawatan mesin; serta lebih dari 800 pekerjaan di Skotlandia. Pekerjaan tersebut mencakup Leonardo di Edinburgh yang memproduksi radar canggih jet tempur tersebut untuk mengidentifikasi musuh.
The aviationist menyebutkan bahwa Turki akan menjadi operator kesepuluh Typhoon, bergabung dengan Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Austria, Oman, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Spekulasi menjelang pengumuman resmi menyebutkan pengadaan sekitar 40 Typhoon, dua kali lipat dari pesanan yang diumumkan yang hanya mengacu pada rangka pesawat baru.
Sisanya mungkin akan datang kemudian, melalui pembelian pesawat bekas dari operator yang ada. Saat ini, 20 pesawat hanya akan memungkinkan satu skuadron untuk dioperasikan. Selain pesawat Typhoon, Angkatan Udara Turki akan memperoleh beberapa senjata andalan jenis ini, termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh MBDA Meteor.
Semula Turki berencana merekapitalisasi angkatan udaranya dengan F-35 Lightning II. Namun, Turki terpaksa meninjau kembali rencananya setelah dikeluarkan dari program F-35 pada tahun 2019 karena keputusannya untuk melanjutkan pengadaan sistem rudal permukaan-ke-udara S-400 Rusia. Ada kekhawatiran signifikan bahwa data yang dikumpulkan oleh S-400 terkait tanda radar F-35 dapat jatuh ke tangan Rusia. Upaya untuk bergabung kembali dengan keluarga F-35 telah berlangsung sejak saat itu, tetapi langkah tersebut terus menghadapi pertentangan di AS.
Fokus utama setiap badan pesawat baru akan menggantikan F-4 Phantom kuno Turki, yang pertama kali beroperasi di negara itu lebih dari 50 tahun yang lalu, serta beberapa F-16 yang lebih tua. Bersamaan dengan Typhoon, dan mungkin F-35, Turkish Aerospace Industries (TAI) telah mengembangkan pesawat tempur generasi kelima yang disebut-sebut sebagai KAAN.(Lina Nursanty)