NEW YORK – Zohran Kwame Mamdani telah meraih kemenangan gemilang dalam pemilihan wali kota New York, menandai dimulainya era baru bagi kota tersebut dengan janjinya untuk menjadi “mimpi terburuk Trump”.
Seperti dikutip dari The Independent, dalam pidato kemenangannya, Mamdani menantang Presiden Donald Trump, memperingatkan “jika ada cara untuk menakuti seorang diktator, cara itu adalah dengan membongkar kondisi yang memungkinkannya mengumpulkan kekuasaan”.
Pria Demokrat berusia 34 tahun ini memimpin kampanye akar rumput dengan momentum yang tak tergoyahkan saat ia meraih kemenangan atas mantan Gubernur Andrew Cuomo, yang mencalonkan diri sebagai independen, dan kandidat Partai Republik Curtis Sliwa.
Putra seorang profesor Universitas Columbia dan sutradara film India ternama kelahiran Uganda ini diproyeksikan meraih 50,4 persen suara oleh CBS News, sementara Cuomo hanya 41,6 persen dan Sliwa hanya 7 persen. Ia adalah kandidat pertama yang meraih lebih dari satu juta suara sejak 1969.
Masyarakat Kota New York kini tengah merayakan kemenangan Mamdani dalam pemilihan wali kota yang paling menggemparkan karena Trump seringkali melayangkan ancaman terhadap Mamdani karena dia seorang Muslim, imigran dan komunis. Trump coba membelah dukungan terhadap Mamdani dengan membiayai Andrew Cuomo. Trump juga menyebut kelompok Yahudi yang mendukung Mamdani dengan sebutan Yahudi “bodoh”.
Kehadiran Mamdani dalam panggung politik AS cukup membelah tren politik AS yang menjadi sangat bertendensi ke arah konservatif dengan kemenangan Donald Trump. Dalam masa kepemimpinan Trump ini, isu migran menjadi horor yang menakutkan karena petugas imigrasi AS atau US Immigration and Custom Enforcement (ICE) dapat menangkap dan mendeportasi imigran sesuka hati.
“Dan jika ada cara untuk menakuti seorang diktator, cara itu adalah dengan membongkar kondisi-kondisi yang memungkinkannya mengumpulkan kekuasaan. Jadi, Donald Trump, karena saya tahu Anda sedang memperhatikan, saya punya empat kata untuk Anda: Keraskan volumenya,” kata Mamdani.
Gaya politik Mamdani dalam pengorganisiran dukungan di masa kampanye berhasil menuai dukungan massa. Kehadirannya di platform media sosial berhasil memikat para pemilih muda yang sudah muak dengan kesewenangan Trump terhadap imigran dan dukungan AS terhadap genosida Israel di Palestina.
Dituding Antisemit
Sebagai seorang Muslim, Mamdani kerap dituding Antisemit oleh para lawan politiknya. Padahal, sikap tegasnya yang mengecam genosida Israel bukan karena dia seorang Muslim, melainkan karena Israel telah jelas melanggar hukum internasional dengan melakukan genosida serta didukung oleh AS. Sikap Mamdani terhadap eksistensi Israel cukup jelas. “Ya, seperti semua bangsa, saya percaya Israel memiliki hak untuk hidup – dan juga tanggung jawab untuk menegakkan hukum internasional,” ujarnya.
Ia menjanjikan peningkatan dana sebesar 800 persen untuk pendanaan anti-kejahatan kebencian dan berusaha menegaskan bahwa ia menentang beberapa “kebijakan pemerintah Israel” di Gaza, bukan orang-orang Yahudi. Ia secara konsisten menggambarkan tindakan Israel di Gaza sebagai genosida. (Lina Nursanty)