TOKYO – Pemerintah Tiongkok (China) mendesak warga negaranya untuk menahan diri mengunjungi Jepang untuk sementara waktu (travel banned). Hal ini sebagai tanggapan atas komentar Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae tentang Taiwan.
Dikutip dari NHK, Kementerian Luar Negeri Tiongkok merilis pernyataan pada Jumat (15/11/2025) malam. Pernyataan tersebut menuduh Takaichi berkomentar provokatif tentang Taiwan dan berdampak negatif pada suasana komunikasi kedua negara.
Pernyataan tersebut juga menyatakan bahwa nyawa dan keselamatan fisik warga negara Tiongkok di Jepang kini terancam, dan mendesak mereka untuk sepenuhnya memperhatikan situasi keamanan setempat. Takaichi mengatakan kepada Parlemen awal bulan ini bahwa keadaan darurat militer di Taiwan dapat dianggap sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang.
Namun, pemerintah Jepang buru-buru mengajukan keberatan sehari setelah larangan berkunjung itu dirilis Tiongkok. Dilansir CBS, Pemerintah Tokyo mengajukan protes dan juru bicara utamanya, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara, mendesak Tiongkok untuk mengambil “langkah-langkah yang tepat,” lapor Kyodo News Service Jepang.
Kihara mengatakan kepada para wartawan bahwa justru karena perbedaan antara kedua pemerintah itulah komunikasi berlapis menjadi penting. Kekhawatiran tentang pariwisata Tiongkok ke Jepang dan program pertukaran antara kedua negara kini meningkat.
Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JPN) menyatakan terdapat 7,48 juta wisatawan dari Tiongkok antara Januari dan September tahun ini. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara dan kawasan mana pun.
Jepang merupakan tujuan wisata yang sangat populer bagi wisatawan Tiongkok, memberikan dorongan ekonomi yang sangat dibutuhkan, tetapi juga memicu reaksi anti-Tiongkok dan anti-asing dari beberapa pihak. Belum jelas dampak imbauan tersebut terhadap keinginan warga Tiongkok untuk mengunjungi Jepang, tetapi beberapa maskapai penerbangan Tiongkok menawarkan pengembalian uang tanpa penalti untuk tiket yang telah terjual sebelumnya ke Jepang setelah pengumuman pemerintah tersebut.
Hubungan Merenggang
Perselisihan ini menunjukkan bahwa hubungan Jepang yang sudah rapuh dengan Tiongkok dapat menjadi renggang di bawah kepemimpinan Takaichi, yang mendukung peningkatan kekuatan militer untuk melawan potensi ancaman dari Beijing dan klaimnya atas wilayah yang disengketakan di perairan terdekat di Pasifik barat.
Takaichi, yang menjadi perdana menteri bulan lalu, mengatakan di parlemen bahwa serangan Tiongkok terhadap Taiwan dapat menjadi “ancaman eksistensial” bagi Jepang, yang membutuhkan penggunaan kekuatan oleh militernya.
Pernyataan tersebut memicu keberatan keras dari China, termasuk unggahan media sosial dari konsul jenderalnya di Osaka akhir pekan lalu yang mengatakan, “Kami tidak punya pilihan selain memenggal leher kotor yang telah diterjang kami.” Komentarnya tersebut, yang kemudian dihapus, memicu protes diplomatik Jepang yang diikuti oleh perdebatan sengit yang berlanjut sepanjang minggu.
China mengklaim Taiwan, sebuah pulau dengan pemerintahan sendiri di lepas pantainya, sebagai wilayahnya dan telah melancarkan latihan militer yang mengancam di perairan sekitarnya dalam beberapa tahun terakhir.
Baik Amerika Serikat maupun Jepang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, tetapi AS adalah pemasok utama alutsista bagi militer pulau itu dan menentang penyelesaian situasi Tiongkok-Taiwan dengan kekerasan. Jepang adalah sekutu militer Amerika Serikat dan menampung pasukan Amerika di beberapa pangkalan AS di wilayahnya, termasuk pangkalan Angkatan Laut utama di selatan Tokyo. (Lina NUrsanty)