Jerman Pemasok Senjata Terbesar Kedua bagi Israel

Kanselir Jerman Friedrich Merz (kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat melakukan jumpa pers bersama. Foto: x.com/bundeskanzler/
Sejak tahun 2003, Jerman telah menjual persenjataan senilai 3,3 miliar euro atau Rp 640 triliun ke Israel, terutama mengekspor peralatan angkatan laut, termasuk korvet Sa'ar 6, yang digunakan untuk menyerang Gaza dan menegakkan blokade laut.
Share the Post:

BERLIN – Jerman mencabut penangguhan ekspor senjata ke Israel selama tiga bulan. Dalam kunjungan pertamanya ke Israel, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan senjata itu dapat digunakan di Jalur Gaza. Merz tidak menganggap tindakan Israel selama ini di Gaza sebagai genosida. 

Pada 24 November lalu, Jerman mengakhiri pembatasan ekspor senjata, dengan menyatakan bahwa Gaza kini telah “stabil” setelah gencatan senjata. Keputusan tersebut bergantung pada kepatuhan terhadap gencatan senjata dan penyediaan bantuan kemanusiaan dalam skala besar. 

Namun, genosida Israel belum berhenti sejak gencatan senjata berlaku pada bulan Oktober. Serangan Israel telah menewaskan setidaknya 360 warga Palestina dan melukai 922 orang. Kantor Media Pemerintah di Gaza mendokumentasikan 591 pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pasukan Israel. Israel terus membatasi bantuan, hanya mengizinkan 20 persen dari truk yang diwajibkan masuk ke Gaza.

Padahal, Merz sempat didukung publik Jerman ketika ia menangguhkan ekspor senjata ke Israel pada Agustus lalu. Keputusan Merz saat itu dipandang sebagai perubahan signifikan dalam kebijakan pertahanan Jerman. Saat itu, Merz menekankan bahwa Jerman tidak bisa lagi mengabaikan semakin parahnya dampak yang dialami warga sipil Gaza, sambil terus mendukung apa yang ia sebut sebagai “hak Israel untuk membela diri” dan perlunya pembebasan tawanan yang ditahan oleh Hamas. 

Seperti dilansir oleh AlJazeera, sikap Merz untuk mencabut penangguhan ekspor senjata ke Israel itu mengukuhkan posisi Jerman sebagai pemasok senjata kedua bagi Israel setelah Amerika Serikat, mitra ekspor terbesar kelima dan salah satu pendukung Israel terbesar. Merz dijadwalkan akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membahas hubungan bilateral, gencatan senjata di Gaza, dan hal-hal lainnya. 

Jerman telah menyatakan tidak berencana untuk mengakui negara Palestina, tidak seperti 10 negara Eropa dan Barat yang telah melakukannya tahun ini. Padahal, sejak Oktober 2023, telah terjadi 801 protes terkait Israel-Palestina di Jerman, dengan 670 mendukung Palestina dan 131 mendukung Israel. 

Pemasok Utama

Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), antara tahun 2019 dan 2023, AS merupakan pemasok senjata terbesar bagi Israel, menyediakan 69 persen peralatan militer, sementara Jerman merupakan pemasok terbesar kedua, memasok sekitar 30 persen. Bersama-sama, kedua negara ini menyumbang 99 persen dari impor senjata Israel.

Pada tahun 2023, pemerintah Jerman mengesahkan 308 lisensi ekspor militer ke Israel, senilai 326,5 juta euro atau Rp 6,4 triliun meningkat sepuluh kali lipat dari pada tahun 2022. Sejak tahun 2003, Jerman telah menjual persenjataan senilai 3,3 miliar euro atau Rp 640 triliun ke Israel, terutama mengekspor peralatan angkatan laut, termasuk korvet Sa’ar 6, yang digunakan untuk menyerang Gaza dan menegakkan blokade laut.

Israel juga mengoperasikan kapal selam kelas Dolphin buatan Jerman, yang merupakan andalan armada kapal selam Angkatan Laut Israel. Selain itu, Jerman telah menjual berbagai macam amunisi berukuran kecil; peluncur roket bahu “Matador” buatan Jerman telah digunakan oleh tentara Israel sejak tahun 2009, serta rudal dan mesin untuk tank dan kendaraan lapis baja lainnya.

Pada 3 Desember, Bloomberg melaporkan bahwa Israel akan menyerahkan sistem pertahanan rudal anti-balistik jarak jauh Arrow 3 kepada Jerman. Pengalihan ini memberi Jerman akses independen ke aset militer canggih ini dan merupakan kontrak pengadaan besar pertama negara itu setelah penilaian ulang kemampuan pertahanan yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Perjanjian tersebut, yang ditandatangani lebih dari dua tahun lalu dan merupakan kesepakatan ekspor pertahanan terbesar Israel, bernilai lebih dari 3,6 miliar euro dan mencakup sistem peluncur, amunisi, dan radar.

Jerman juga adalah mitra ekspor terbesar kelima Israel dan mitra dagang terbesarnya di Eropa, dengan pertukaran dagang yang signifikan di bidang teknologi, mesin, dan farmasi. Pada tahun 2023, Israel menjual barang senilai $2,64 miliar atau Rp 439,9 triliun ke Jerman, terutama di bidang teknologi canggih dan elektronik. Pada tahun yang sama, Jerman menjual barang senilai $5,5 miliar atau Rp 879 triliun ke Israel, terutama berupa mesin dan elektronik, diikuti oleh mobil dan produk farmasi. 

Jerman secara aktif berinvestasi dalam teknologi Israel melalui modal ventura, kolaborasi penelitian dan pengembangan, serta kemitraan korporat dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Siemens dan Bayer. (Lina Nursanty)