JAKARTA – Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sudah banyak memakan korban. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengatakan pada Rabu bahwa lebih dari 1.348 warga sipil tewas dan lebih dari 17.000 orang terluka sejak dimulainya serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap negaranya pada 28 Februari 2026 lalu.
Amir Saeid Iravani mengatakan dalam pertemuan di PBB bahwa serangan militer yang sedang berlangsung telah menyebabkan banyak korban sipil serta kerusakan besar pada infrastruktur di berbagai wilayah di seluruh negeri. ‘’Serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB, serta menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil tindakan guna menghentikan operasi militer tersebut,’’ sebagaimana dilansir Anadolu.
Pertempuran tidak hanya terjadi di wilayah Iran, tetapi juga meluas ke negara lain di kawasan. Di Lebanon, serangan Israel terhadap target yang diklaim sebagai basis Hezbollah telah menewaskan sedikitnya 634 orang dan melukai lebih dari 1.500 lainnya dalam waktu kurang dari dua pekan. ‘’Pemerintah Lebanon juga mencatat lebih dari 816.000 keluarga mengungsi akibat intensitas pertempuran yang meningkat, terutama di wilayah selatan Lebanon dan pinggiran selatan Beirut,’’ begitu laporan Guardian.
Sebagai balasan, Iran bersama Hezbollah meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel. Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas militer Israel, termasuk pangkalan angkatan laut di kota pelabuhan Haifa serta markas intelijen militer Israel. Ini menjadi salah satu momen penting dalam konflik karena untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, Iran dan Hezbollah disebut melakukan koordinasi langsung dalam melancarkan serangan ke Israel.
Ketegangan juga merambat ke kawasan Teluk. Beberapa negara di kawasan, seperti Kuwait dan Arab Saudi, melaporkan telah mencegat sejumlah drone Iran yang menuju wilayah mereka. Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah, salah satu fasilitas energi penting di kawasan.
Situasi keamanan maritim juga memburuk. Beberapa kapal dagang dilaporkan terkena serangan proyektil di perairan Teluk, termasuk kapal berbendera Thailand, Jepang, dan Kepulauan Marshall. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ratusan kapal tanker dilaporkan menunggu di sekitar jalur sempit tersebut karena meningkatnya ancaman serangan.
Iran bahkan menyatakan tidak akan mengizinkan pengiriman minyak melewati Selat Hormuz selama serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negaranya terus berlangsung. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global karena gangguan pasokan dari kawasan Teluk dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran akan terus dilanjutkan hingga tujuan strategis tercapai. Ia mengklaim militer Amerika telah menghancurkan puluhan kapal militer Iran dan menegaskan bahwa Washington tidak akan menghentikan operasi sebelum misinya selesai. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan kampanye militer terhadap Iran dan kelompok sekutunya akan berlangsung tanpa batas waktu sampai Israel mencapai kemenangan.
Sementara itu, situasi di Iran sendiri semakin tegang setelah serangan udara menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada awal konflik. Pemakaman besar digelar di Teheran untuk para komandan militer yang tewas. Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang disebut sebagai penerus kepemimpinan Iran, dilaporkan mengalami luka akibat serangan udara dan belum muncul di hadapan publik sejak perang dimulai.
Resolusi DK PBB Kecam Serangan Iran
Dewan Keamanan PBB pada Rabu mengadopsi sebuah resolusi yang mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Kawasan Teluk dan Yordania. Resolusi tersebut disahkan dengan 13 suara mendukung, sementara Rusia dan China memilih abstain. Resolusi yang diajukan oleh Bahrain dan disponsori bersama oleh 135 negara itu menegaskan “dukungan kuat terhadap integritas wilayah, kedaulatan, dan kemerdekaan politik” negara-negara GCC serta Yordania.
Dokumen tersebut dengan tegas mengecam “serangan berat yang dilakukan Republik Islam Iran terhadap” negara-negara Teluk dan Yordania, serta menekankan bahwa serangan tersebut “merupakan pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional.”
Duta Besar Bahrain untuk PBB, Jamal Fares Alrowaiei, menyambut baik pengesahan resolusi tersebut. Ia mengatakan keputusan itu membuktikan bahwa Dewan berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
“Kami menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua negara anggota PBB yang menjadi sponsor bersama resolusi ini. Jumlahnya mencapai 135 negara. Dukungan besar dari komunitas internasional ini mencerminkan kesadaran kolektif terhadap bahaya serangan Iran yang tidak adil terhadap negara-negara kami,” ujarnya.
Sebaliknya, Utusan Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani memperingatkan pada Selasa bahwa rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang didukung negara-negara Teluk dan mengecam serangan Iran terhadap negara-negara di kawasan tersebut akan merusak secara permanen kredibilitas lembaga itu. “Jika disahkan, ini akan menjadi noda bagi kredibilitas dan reputasi Dewan Keamanan,” kata Iravani.
Ia juga menambahkan bahwa Israel dan Amerika Serikat akan merasa didukung dan semakin berani melakukan tindakan agresi lebih lanjut. “Hari ini Iran. Besok bisa saja negara berdaulat lainnya,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa komunitas internasional harus segera bertindak untuk menghentikan perang berdarah terhadap rakyat Iran.
Selain itu, Iravani menyoroti dampak serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, yang menurutnya secara sengaja menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh Iran. Ia mengatakan bahwa jumlah korban sipil telah mencapai lebih dari 1.300 orang, serta melaporkan bahwa serangan tersebut telah menghancurkan 9.669 lokasi sipil, termasuk 7.943 rumah penduduk serta 1.617 pusat komersial dan layanan.
“Angka-angka ini terus meningkat setiap hari seiring Amerika Serikat dan Israel melanjutkan serangan militer di berbagai kota di Iran,” tambahnya. (Dwi Sasongko)