JAKARTA – Tim patroli Komando Operasi (Koops) TNI Habema menyita empat pucuk senjata api beserta sejumlah amunisi dari sebuah honai yang diduga menjadi tempat persembunyian kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) pimpinan Daniel Aibon Kogoya di sekitar Kampung Abundoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (16/7).
Penyitaan tersebut merupakan hasil operasi keamanan yang dilakukan berdasarkan informasi intelijen mengenai dugaan rencana aksi bersenjata terhadap aparat keamanan serta aktivitas konsolidasi kelompok OPM di wilayah tersebut.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna mengatakan, sebelum operasi dilaksanakan, pasukan terlebih dahulu melakukan pengintaian, verifikasi, dan perencanaan secara matang.
“Setelah melalui proses pengintaian, verifikasi, dan perencanaan yang matang, pasukan bergerak menuju lokasi untuk mengamankan sasaran dengan tetap mengedepankan keselamatan masyarakat,” kata Wirya dalam keterangan pers, Jumat (17/7).
Saat menguasai honai tersebut, personel Satgas menemukan dan menyita satu pucuk senjata api organik jenis Lee Enfield kaliber 7,62 mm, dua pucuk senjata api rakitan kaliber 5,56 mm, satu pucuk senapan angin dalam kondisi terbongkar, sejumlah munisi, serta berbagai perlengkapan lain yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas kelompok tersebut.
Wirya menegaskan bahwa setiap operasi yang dilakukan Koops TNI Habema berorientasi pada perlindungan masyarakat sipil dan dilaksanakan berdasarkan informasi yang valid.
“Tugas utama kami adalah memberikan rasa aman kepada masyarakat Papua. Setiap tindakan dilakukan secara terukur berdasarkan informasi yang valid, dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap warga sipil serta menghormati nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Menurut Wirya, terciptanya situasi keamanan yang kondusif menjadi fondasi penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua.
Koops TNI Habema juga kembali mengajak anggota OPM yang masih berada di hutan untuk menghentikan aksi kekerasan dan memilih penyelesaian secara damai.
“Negara tetap membuka ruang dialog dan kesempatan bagi siapa pun yang ingin kembali melalui jalur damai, bermartabat, dan sesuai ketentuan hukum. Bersama masyarakat, pemerintah, dan seluruh elemen bangsa, Papua yang aman, damai, dan sejahtera merupakan cita-cita yang harus diwujudkan bersama,” kata Wirya. (Dwi Sasongko)