JAKARTA — Kementerian Kebudayaan perkuat upaya pelestarian warisan budaya Indonesia melalui kolaborasi di bidang digitalisasi warisan budaya, serta pengembangan kajian mengenai kontribusi Indonesia dalam sejarah budaya dunia. Komitmen tersebut ditegaskan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat menerima kunjungan dari Prof. Eugene Wang, akademisi senior dari Harvard FAS CAMLab, yang berada di bawah naungan Harvard Faculty of Arts and Sciences (FAS), di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta pada 11 Agustus lalu.
Dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak mendiskusikan penerbitan kembali materi-materi bersejarah yang sulit ditemukan, pelestarian secara digital Candi Borobudur melalui pemindaian tiga dimensi, serta publikasi kontribusi Indonesia dalam sejarah global. Menbud menyampaikan bahwa digitalisasi tidak hanya menjadi sarana dokumentasi, tetapi juga membuka berbagai kemungkinan baru dalam pemanfaatan data kebudayaan.
“Setelah kita memiliki data digital, kita bisa melakukan banyak hal dengannya. Mungkin dengan cara yang berbeda dari yang selama ini kita bayangkan,” ungkap Fadli Zon dalam keterangannya.
Menbud juga menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak untuk mewujudkan agenda tersebut. Kolaborasi antara pemerintah, kelompok yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan, serta lembaga akademik menjadi salah satu hal yang dipandang penting, salah satunya yaitu Harvard.
Fadli Zon juga menyampaikan bahwa digitalisasi budaya semakin penting mengingat kondisi warisan budaya dapat mengalami perubahan dan kerusakan akibat berbagai faktor. “Dokumentasi digital dipandang sebagai bagian penting dari upaya menjaga pengetahuan mengenai warisan budaya bagi generasi mendatang,” jelas Menbud.
Prof. Eugene Wang, pada diskusi tersebut menyampaikan pemanfaatan teknologi dapat dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman budaya dalam ruang digital. Data hasil pemindaian dan dokumentasi warisan budaya menurutnya dapat digunakan untuk membangun ruang digital yang memungkinkan masyarakat dari berbagai penjuru dunia berinteraksi dengan kebudayaan Indonesia.
“Kita dapat membuat dunia digital tersebut dalam skala yang lebih kecil, sehingga dari berbagai penjuru dunia dapat mengeksplorasinya. Sebelum mereka datang langsung ke Indonesia, mereka sudah dapat mengenal dan berinteraksi dengan kebudayaan Indonesia melalui ruang digital,” ucapnya.
Candi Borobudur dipandang sebagai sebuah monumen yang melampaui identitas Buddhis. Borobudur menjadi simbol yang menekankan inklusivitas dan nilai-nilai universal. Pelestarian digital Borobudur menjadi salah satu agenda penting, perbandingan gambar dari tahun 1906 dengan foto-foto terkini memperlihatkan kerusakan pada relief-relief Borobudur selama satu abad terakhir.
Untuk mendokumentasikan kondisi Borobudur diusulkan pemindaian 3D yang komprehensif demi mengamankan seluruh situs secara digital. Hasil pemindaian modern nantinya akan diintegrasikan dengan arsip foto awal guna memungkinkan rekonstruksi digital yang presisi. Pemanfaatan teknologi juga dipandang sebagai bagian penting dalam upaya menghidupkan kembali ilmu humaniora.
Turut hadir pada kesempatan tersebut di antaranya Staf Ahli Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin; Sekretaris Umum Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin; serta perwakilan Harvard FAS CAMLab, Demi Chan dan Qin Lin Li.
Kementerian Kebudayaan berupaya untuk terus memperluas kerja sama dengan berbagai mitra strategis, termasuk di bidang publikasi dan digitalisasi. Kerangka kerja kemitraan formal antara Kementerian, Yayasan Buddha Tzu Chi, dan Harvard, nantinya akan ditetapkan untuk menyediakan sumber daya dan melaksanakan pemindaian 3D berskala besar serta pelestarian digital Borobudur. (Dwi Sasongko)