Menempuh Perjalanan 23 Hari, KRI Brawijaya Tiba di Tanah Air

KRI Brawijaya-320 yang memiliki panjang 143 meter dan dapat melaju dengan kecepatan maksimum hingga 32 knot ini diklaim sebagai kapal jenis Frigate terbesar se Asia Tenggara milik TNI AL. Foto : Puspen TNI
Menhan menegaskan bahwa KRI BWJ-320 bukan sekadar alat, melainkan bagian integral dari penguatan TNI.
Share the Post:

JAKARTA — Setelah menempuh perjalanan selama 23 hari dari Italia, kapal perang jenis Frigate Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) atau kapal perang multi fungsi terbesar di Asia Tenggara, KRI Brawijaya-320 (KRI BWJ-320) akhirnya tiba di Dermaga 107, Pelabuhan JICT 107 Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada hari Senin (8/9/2025). Kedatangan kapal canggih ini menandai implementasi nyata dari kebijakan Perisai Trisula Nusantara dalam memperkuat postur pertahanan maritim Indonesia.

Sebagai kapal perang multifungsi atau Multi Purpose Combat Ship, KRI BWJ-320 memiliki kemampuan peperangan empat dimensi: anti-udara, anti-kapal permukaan, anti-kapal selam, dan peperangan elektronika. Kapal sepanjang 143 meter ini mampu melaju hingga kecepatan 32 knot dan dilengkapi persenjataan canggih.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Sjafrie Sjamsoeddin, didampingi oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali, menyambut langsung kedatangan kapal perang Brawijaya ini. Sejumlah pejabat dari TNI Angkatan Udara hadir termasuk Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. 

Dalam sambutannya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan rasa syukur dan bangga atas kedatangan kapal ini. Menhan menegaskan bahwa KRI BWJ-320 bukan sekadar alat, melainkan bagian integral dari penguatan TNI. “Tantangan bagi kita adalah untuk terus memelihara kemampuan dan keterampilan agar TNI bisa mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Menhan dalam keterangan tertulis kepada The Strategy. 

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, didampingi oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali dengan bangga menyambut langsung kedatangan kapal perang Brawijaya ini. Foto : Puspen TNI

Menhan juga berpesan kepada Panglima TNI dan KSAL untuk menjaga kesiapan seluruh perangkat kapal agar siap menghadapi ancaman dari dalam maupun luar. Kehadiran KRI BWJ-320 ini mempertegas komitmen Indonesia dalam memodernisasi Alutsista TNI, sekaligus sejalan dengan program “Asta Cita” Presiden Prabowo Subianto dan menjadi salah satu program prioritas KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali. Menhan Sjafrie juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Italia atas kerja sama yang telah terjalin dan berharap kapal berikutnya, KRI Prabu Siliwangi, akan segera menyusul.

Sebelumnya, Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali mewakili Menteri Pertahanan Republik Indonesia (RI) Sjafrie Sjamsoedin untuk memimpin secara resmi acara serah terima (delivery), peresmian KRI Brawijaya-320, serta pengukuhan Komandan KRI Brawijaya-320, di galangan kapal Fincantieri, Muggiano, Italia, Rabu (2/7/2025). 

Sejak diberangkatkan dari Italia, KRI BWJ-320 telah menempuh pelayaran sejauh 9.189 Nautical mile selama 23 hari. Dalam pelayaran tersebut, KRI BWJ-320 menyinggahi 6 negara yaitu Italia, Turki, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirate Arab dan Sri Lanka.

KRI Brawijaya-320 yang dikomandani Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh ini membawahi 160 prajurit. Kapal perang yang memiliki panjang 143 meter dan dapat melaju dengan kecepatan maksimum hingga 32 knot ini diklaim sebagai kapal jenis Frigate terbesar se Asia Tenggara milik TNI AL. 

Sebagai kapal perang generasi baru, KRI Brawijaya-320 dilengkapi dengan sistem sensor canggih, persenjataan modern dan teknologi digital yang terintegrasi. Kapal ini dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman di laut, termasuk yang bersifat kompleks dan multidimensi. 

Kehadiran KRI Brawijaya-320 mempertegas langkah maju TNI dalam memperkuat dan memodernisasi sistem senjata Armada TNI AL di bawah Satuan Kapal Eskorta Komando Armada II (Koarmada II), sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pertahanan dan pengamanan wilayah laut Indonesia. (Dwi Sasongko)