BRUSSELS – Para pemimpin dan pembuat kebijakan di Eropa tidak lagi mengabaikan retorika Presiden AS yang semakin meningkat terkait invasi ke Greenland. Kini, mereka berupaya keras mencari rencana untuk menghentikannya. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya dari Jerman dan Polandia telah membahas respons bersama Eropa terhadap ancaman Trump.
“Yang dipertaruhkan adalah pertanyaan tentang bagaimana Eropa, Uni Eropa, dapat diperkuat untuk mencegah ancaman, upaya terhadap keamanan dan kepentingannya. Greenland tidak untuk dijual, dan tidak untuk direbut, jadi ancaman harus dihentikan,” kata Barrot kepada wartawan, seperti dikutip dari Pollitico.
Seorang diplomat Uni Eropa yang menolak disebutkan namanya mengatakan bahwa kini Eropa harus siap menghadapi konfrontasi langsung dengan Trump. “Dia sedang dalam mode agresif, dan kita perlu bersiap,” ujarnya.
Bloomberg melaporkan bahwa para pejabat Eropa tidak hanya tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengatasi ancaman Trump, tetapi mereka juga mengakui bahwa mereka tidak memahami apa yang diinginkan Trump dan tidak yakin bagaimana cara memperbaiki keadaan. Namun mereka tahu bahwa mereka masih membutuhkan AS, meskipun sekutu yang dulunya setia itu semakin bermusuhan.
Jika situasinya semakin memburuk, para pejabat memperkirakan akan terjadi konsekuensi yang menghancurkan. NATO tidak akan bertahan jika satu anggotanya berbalik melawan anggota lainnya, kata mereka. Dan Uni Eropa tidak dirancang untuk turun tangan secara militer jika NATO runtuh, sehingga pasukan masing-masing negara tidak memiliki cara yang jelas untuk bekerja sama.
“Tidak ada lagi solusi yang baik,” kata seorang diplomat senior Eropa yang menghadiri pembicaraan dengan AS di Paris pekan ini, menggemakan sentimen lebih dari selusin diplomat, pejabat, dan anggota parlemen yang mengetahui pembicaraan yang terjadi di Eropa, yang semuanya berbicara secara anonim untuk membahas situasi sensitif tersebut.
Upaya Eropa Gagal
Sekalipun AS mundur, kesediaan Trump untuk menggunakan ancaman militer terhadap sekutu lamanya menunjukkan kenyataan baru yang menyakitkan: upaya Eropa untuk menenangkan Trump gagal, menimbulkan kemiripan yang mengkhawatirkan dengan perang yang menghancurkan Eropa abad lalu. Trump telah menggulingkan presiden Venezuela, secara terang-terangan mengabaikan norma internasional pada saat Rusia dan China juga menguji batasan global terhadap kekuasaan mereka.
Untuk saat ini, Denmark masih berharap kunjungan diplomatik ke Washington DC minggu depan dapat meredam Trump. Sementara itu, para pemimpin Eropa menawarkan kepada presiden untuk mengamankan Greenland bersama-sama untuk melawan Rusia dan China.
Kekhawatiran tetap ada bahwa keterlibatan tersebut dapat berbalik menjadi bumerang. Secara pribadi, para pejabat sedang memikirkan berbagai skenario yang mengkhawatirkan — mulai dari invasi militer hingga Trump menggunakan pulau itu sebagai alat tawar-menawar terkait Ukraina, hingga AS menggunakan protes anti-Amerika di Greenland sebagai dalih untuk mengirimkan pasukan.
Namun, meskipun upaya menyenangkan Trump mungkin tidak berhasil, alternatifnya pun tidak lebih baik. Konflik langsung dengan sekutu terbesar Eropa akan menimbulkan biaya yang tak terbayangkan, tetapi konsesi akan mempermalukan dan melumpuhkan ambisi benua tersebut untuk memproyeksikan kekuatan global. “Hubungan transatlantik berada di ambang perpecahan mendasar,” kata Ian Lesser, seorang peneliti terkemuka German Marshall Fund yang mengkhususkan diri dalam kebijakan keamanan AS dan transatlantik.
Donald Trump belum pernah ke Greenland. Ia juga belum pernah ke Denmark, negara anggota Uni Eropa yang mengawasi keamanan pulau tersebut. Namun sejak 2019, Trump bersikeras bahwa AS membutuhkan Greenland.
Awalnya, pernyataan Trump menuai ketidakpercayaan dan ejekan, bahkan ketika ia membatalkan perjalanan ke Denmark tahun itu setelah Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan Greenland tidak untuk dijual.
Namun, candaan itu kini telah hilang. Trump, dalam masa jabatan keduanya, telah menunjukkan kesediaannya untuk melanggar hukum dan aliansi demi mencapai apa yang tidak bisa ia capai di masa jabatan pertamanya. Dan retorikanya tentang Greenland semakin intensif.
Frederiksen, yang masih berkuasa, tetap konsisten: Trump tidak bisa membeli Greenland. Ia bergantian antara retorika yang tegas dan membujuk, menyuruh presiden untuk mundur sambil juga mengajak AS untuk berinvestasi di Greenland dan membuat janji-janji moneter sendiri.
Sementara itu, pemerintahan Trump telah meningkatkan upaya pendekatan Arktiknya. Januari lalu, Trump mengancam akan mengenakan tarif pada Denmark jika menolak untuk menyerahkan pulau itu. Kemudian pada tahun yang sama, Wakil Presiden JD Vance dan putra Trump, Donald Trump Jr., mengunjungi pulau tersebut.
Namun, isu tersebut tetap berada di pinggiran hubungan AS-Eropa hingga bulan ini, ketika Trump mengejutkan sekutu dengan menyatakan bahwa AS akan mengendalikan Venezuela setelah menggulingkan pemimpinnya. Trump kemudian bersumpah akan mengendalikan Greenland selanjutnya, dan Gedung Putih menolak untuk mengesampingkan tindakan militer.
“Saya percaya kita harus menanggapi serius pernyataan presiden Amerika ketika dia mengatakan bahwa dia menginginkan Greenland,” kata Frederiksen pekan ini. “Tetapi saya juga akan memperjelas bahwa jika AS memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan dengan demikian keamanan yang telah dibangun sejak akhir Perang Dunia Kedua,” tambah Frederiksen. (Lina Nursanty)