Erdogan Hadiahkan Revolver Personal Beserta Peluru Tajam kepada Para Pemimpin NATO 

: Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, menghadiahkan sebuah revolver kepada para pemimpin NATO. Sebuah revolver ditempatkan dalam kotak berwarna merah dengan lapisan hitam, berisi enam butir peluru tajam, serta disertai surat yang menyatakan bahwa senjata tersebut dikecualikan dari ketentuan pengendalian ekspor. Foto: thecanadianpressnews
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menjadi pemimpin pertama yang mengungkapkan hadiah tersebut pada Rabu malam. Menurutnya, Erdoğan memberikan kepada setiap kepala negara dan pemerintahan sebuah revolver yang diukir dengan nama masing-masing penerima.
Share the Post:

ANKARA – Ada yang menarik pada perhelatan KTT NATO tahunan kali ini. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, menghadiahkan sebuah revolver yang dipersonalisasi kepada para pemimpin NATO setelah berakhirnya KTT NATO tahunan di Ankara pada Rabu, 7 Juli 2026. Setiap revolver ditempatkan dalam kotak berwarna merah dengan lapisan hitam, berisi enam butir peluru tajam, serta disertai surat yang menyatakan bahwa senjata tersebut dikecualikan dari ketentuan pengendalian ekspor.

Mengutip newscord.org, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menjadi pemimpin pertama yang mengungkapkan hadiah tersebut pada Rabu malam. Menurutnya, Erdoğan memberikan kepada setiap kepala negara dan pemerintahan sebuah revolver yang diukir dengan nama masing-masing penerima.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever baru mengetahui secara pasti isi hadiah tersebut setelah tiba di Belgia. Rombongannya menyatakan bahwa sang perdana menteri terkejut dan segera menyerahkan revolver itu kepada polisi bandara.

Pada saat yang sama, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa juga menerima revolver serupa. Juru bicara von der Leyen mengatakan bahwa ia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Erdoğan dan berencana menyumbangkan senjata tersebut ke sebuah museum militer.

Pejabat Belgia menyatakan bahwa tim pengamanan De Wever menyerahkan revolver tersebut kepada polisi bandara agar dapat diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku setelah delegasi mengetahui isi paket tersebut sesampainya di Belgia.

Sementara itu, PM Hungaria Péter Magyar menulis di platform X bahwa dirinya menerima “sebuah revolver Magnum lengkap dengan amunisi yang diukir dengan nama saya.”

Hadiah tersebut menimbulkan sejumlah persoalan hukum dan logistik bagi beberapa pemimpin negara. Banyak negara tidak mengizinkan pejabat pemerintah membawa masuk senjata api yang masih berfungsi setelah kembali dari kunjungan diplomatik.  

The Guardian melaporkan revolver yang diberikan kepada Presiden Polandia, Karol Nawrocki, juga tiba dengan selamat. Namun, proses penanganannya dilakukan dengan kehati-hatian ekstra karena semua pihak masih mengingat insiden yang terjadi sebelumnya.

Pada Desember 2022, Kepala Kepolisian Polandia membawa pulang sebuah peluncur granat antitank dari Ukraina yang diterimanya sebagai hadiah. Perangkat tersebut kemudian meledak di kantornya, menyebabkan ia mengalami luka ringan dan mengakibatkan kerusakan besar pada markas besar Kepolisian Polandia di Warsawa.

Kali ini, seorang ajudan Presiden Nawrocki mengatakan kepada sebuah stasiun radio lokal bahwa, “Sudah dipastikan tidak akan ada seorang pun yang menembakkan revolver tersebut.”

Beberapa revolver lainnya, termasuk yang diperuntukkan bagi Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten, hingga kini masih berada di ibu kota Turki.

Bergantung pada peraturan yang berlaku di masing-masing negara, pengangkutan senjata api sering kali bukan perkara yang mudah, terutama jika senjata tersebut masih berfungsi sepenuhnya. Perdana Menteri Kanada Mark Carney membawa pulang revolver yang diterimanya, tetapi meninggalkan amunisinya di Turki, menurut keterangan pejabat Kanada. Mereka tidak menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

Sementara itu, tim Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menyatakan bahwa “senjata tersebut harus diangkut ke Swedia sesuai dengan seluruh prosedur hukum dan keamanan yang berlaku.”

Di luar tantangan logistik, hadiah tersebut juga menimbulkan tanda tanya di kalangan sejumlah delegasi yang menghadiri KTT NATO, yang pembahasannya berfokus pada situasi di Ukraina, Iran, serta hubungan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Pertanyaan yang terus muncul adalah: mengapa memilih hadiah seperti itu? Meskipun pertukaran cendera mata antar kepala negara merupakan hal yang lazim dalam pertemuan bilateral maupun konferensi tingkat tinggi, jarang sekali hadiah yang diberikan memerlukan prosedur keamanan dan penanganan yang begitu ketat.

Hingga saat ini, Kepresidenan Turki belum memberikan tanggapan resmi terkait pemberian hadiah tersebut. (Dwi Sasongko)