Departemen Perang Libatkan Grok dalam Strategi Militer AS yang Didukung Teknologi AI  

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Pendiri SpaceX Elon Musk bersalaman di kantor SpaceX, Brownsville, Texas, AS pada 12 Januari 2026. Keduanya sepakat bekerja sama untuk memperluas penerapan AI militer AS dan menjadikan AS kekuatan tempur yang andal di dunia yang didukung AI. Foto : x.com/RevTranscripts
Integrasi Grok yang baru oleh militer ini mengikuti pengumuman tahun lalu bahwa departemen pertahanan telah memberikan kontrak hingga USD 200 juta kepada Anthropic, Google, OpenAI, dan xAI untuk mengembangkan alur kerja AI agen di berbagai bidang misi.
Share the Post:

TEXAS – Departemen Perang Amerika Serikat meluncurkan Strategi Percepatan Kecerdasan Buatan (AI) transformatif termasuk melibatkan Grok besutan SpaceX milik Elon Musk yang akan memperluas keunggulan AS dalam penerapan AI militer dan menjadikan Amerika Serikat sebagai kekuatan tempur yang tak tertandingi di dunia yang didukung AI. Sebagaimana diamanatkan oleh Presiden Donald Trump, strategi percepatan ini akan mendorong eksperimen, menghilangkan hambatan birokrasi lama, dan mengintegrasikan kemampuan AI mutakhir di setiap area misi untuk mengantarkan era dominasi AI militer Amerika yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Demikian dikutip dari pernyataan pers Departemen Perang yang dirilis pada Senin (12/1/2026). “Kita akan mendorong eksperimen, menghilangkan hambatan birokrasi, memfokuskan investasi kita, dan menunjukkan pendekatan eksekusi yang dibutuhkan untuk memastikan kita memimpin dalam AI militer,” kata Menteri Perang Pete Hegseth. 

Ia menjelaskan strategi itu ke dalam tujuh Proyek Penentu Kecepatan (Pace-Setting Projects/PSP), masing-masing dengan satu pemimpin yang bertanggung jawab dan jadwal yang agresif. PSP ini akan menetapkan standar eksekusi AI baru untuk seluruh Departemen. Dari tujuh proyek tersebut, satu di antaranya terkait dengan Enterprise GenAI.mil yang menyediakan akses di seluruh Departemen ke model AI generatif terdepan, seperti Gemini milik Google dan Grok milik xAI, untuk semua personel DoW pada tingkat klasifikasi Informasi (IL-5) dan di atasnya. “Kecepatan menentukan kemenangan di era AI, dan Departemen Perang akan menyamai kecepatan industri AI Amerika,” kata Emil Michael, Wakil Menteri Perang untuk Penelitian dan Rekayasa. 

Datangi SpaceX

Dikutip dari The Guardian, berbicara di markas SpaceX di Texas pada Senin malam, Pete Hegseth mengatakan bahwa integrasi Grok ke dalam sistem militer akan mulai beroperasi akhir bulan ini. “Segera kita akan memiliki model AI terkemuka di dunia di setiap jaringan yang tidak terklasifikasi dan terklasifikasi di seluruh departemen kita,” kata Hegseth.

Pada bulan Desember, diumumkan bahwa departemen pertahanan telah memilih Gemini milik Google, model AI lainnya, untuk mendukung platform AI internal baru militer, yang dikenal sebagai GenAI.mil.

Sebagai bagian dari pengumuman hari Senin, Hegseth juga mengatakan bahwa atas arahannya, Kepala Kantor Digital dan Kecerdasan Buatan Departemen Pertahanan akan menggunakan wewenang penuhnya untuk menegakkan keputusan data departemen dan menyediakan semua data yang sesuai di seluruh sistem TI terfederasi untuk eksploitasi AI, termasuk sistem misi di setiap layanan dan komponen. “AI hanya sebaik data yang diterimanya, dan kami akan memastikan bahwa data tersebut tersedia,” kata Hegseth.

Integrasi Grok yang baru oleh militer ini mengikuti pengumuman tahun lalu bahwa departemen pertahanan telah memberikan kontrak hingga USD 200 juta kepada Anthropic, Google, OpenAI, dan xAI untuk mengembangkan alur kerja AI agen di berbagai bidang misi.

Grok, yang terintegrasi ke dalam platform media sosial X, telah menuai kritik dalam beberapa pekan terakhir karena memungkinkan pengguna untuk menghasilkan gambar seksual dan kekerasan. Sejak itu, Grok telah membatasi beberapa fungsi pembuatan gambarnya hanya untuk pelanggan berbayar, tetapi reaksi negatif terus berlanjut. Pekan lalu, Indonesia untuk sementara memblokir akses ke Grok sebagai akibatnya, dan Malaysia segera mengikuti.

Di Inggris, lembaga pengawas media Ofcom telah membuka penyelidikan formal terhadap X terkait penggunaan Grok untuk memanipulasi gambar perempuan dan anak-anak. Banjir gambar seksual bukanlah satu-satunya kontroversi Grok. Tepat sebelum pengumuman kontrak departemen pertahanan senilai USD 200 juta, alat ini menyatakan dirinya sebagai super-Nazi, menyebut dirinya sebagai “MechaHitler” dan membuat unggahan anti-Semit dan rasis. (Lina Nursanty)