WASHINGTON DC – Pertemuan selama satu jam antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland gagal menghasilkan terobosan besar. Semua pihak sepakat untuk membentuk kelompok kerja tingkat tinggi untuk membahas masa depan wilayah otonom Denmark tersebut. Seperti dilaporkan oleh BBC, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan ada “ketidaksepakatan mendasar” dengan AS mengenai Greenland setelah pembicaraan di Gedung Putih.
Dalam pertemuan itu, Rasmussen bernegosiasi dengan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt, Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Menurut Rasmussen, AS tetap bersikeras untuk menaklukan Greenland. “Sama sekali tidak dapat diterima. Kami telah menjelaskan dengan sangat, sangat jelas bahwa ini bukan untuk kepentingan [Denmark],” katanya.
Kelompok kerja tingkat tinggi itu akan bertemu dalam beberapa minggu mendatang untuk mencoba menemukan kompromi. Ia menambahkan bahwa Denmark dan Greenland terbuka terhadap kemungkinan AS membuka lebih banyak pangkalan militer di pulau itu.
Rasmussen juga mengatakan bahwa ia sepakat dengan pandangan Trump bahwa keamanan harus diperkuat untuk melawan kepentingan Rusia dan China di Arktik. Tetapi ia mengatakan komentar presiden tentang kehadiran kapal perang Rusia dan China di sekitar Greenland tidak benar.
Meskipun merupakan wilayah yang jarang penduduknya, lokasi Greenland di antara Amerika Utara dan Arktik menjadikannya lokasi yang strategis untuk sistem peringatan dini jika terjadi serangan rudal dan untuk memantau kapal-kapal di wilayah tersebut. Trump telah berulang kali mengatakan bahwa mengakuisisinya sangat penting bagi keamanan nasional AS.
AS sudah memiliki lebih dari 100 personel militer yang ditempatkan secara permanen di pangkalan Pituffik di ujung barat laut Greenland, sebuah fasilitas yang telah dioperasikan oleh AS sejak Perang Dunia Kedua. Berdasarkan perjanjian yang ada dengan Denmark, AS memiliki wewenang untuk membawa pasukan sebanyak yang diinginkannya ke Greenland.
Greenland Menentang
Setelah pembicaraan pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt mengatakan bahwa wilayah tersebut terbuka untuk kerja sama yang lebih besar dengan AS tetapi juga menentang pengambilalihan. “Kita telah menunjukkan di mana batasan kita,” kata Motzfeldt.
Vance dan Rubio tidak segera berkomentar setelah pertemuan tersebut. Sementara itu, Trump mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa AS membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Trump tidak percaya Denmark dapat mempertahankan wilayahnya dari serangan Rusia dan China. “Masalahnya adalah tidak ada yang bisa dilakukan Denmark jika Rusia atau China ingin menduduki Greenland, tetapi kita bisa melakukan segalanya,” katanya.
Pembicaraan tersebut terjadi ketika sekutu-sekutu di Eropa bergerak cepat untuk menunjukkan dukungan kepada Greenland. Swedia pada hari Rabu berjanji untuk mengirim pasukan bersenjata ke wilayah tersebut atas permintaan Denmark.
Jerman mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diberikan kepada BBC bahwa mereka akan mengirim tim pengintai ke Greenland untuk menjelajahi kondisi umum untuk kemungkinan kontribusi militer guna mendukung Denmark dalam memastikan keamanan di wilayah tersebut.
Berbicara di Swedia pada Rabu malam, Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan setelah permintaan dari Denmark, Inggris akan mengirim satu perwira militer sebagai bagian dari tim pengintai. Menteri Luar Negeri Prancis mengatakan negara itu berencana untuk membuka konsulat di pulau itu bulan depan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan negaranya juga akan berpartisipasi dalam tim pengintaian dan bahwa unsur-unsur militer Prancis sudah dalam perjalanan ke Greenland. Denmark mengatakan ekspansi militernya di Greenland akan berlangsung dalam kerja sama erat dengan sekutu. “Ketegangan geopolitik telah menyebar ke Arktik,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Pembicaraan di Gedung Putih hanyalah babak terbaru dari diskusi diplomatik mengenai meningkatnya minat Trump terhadap wilayah tersebut. Opsi lain yang dilaporkan sedang dipertimbangkan termasuk membeli wilayah tersebut – meskipun baik Denmark maupun Greenland belum mengatakan bahwa wilayah itu dijual. (Lina Nursanty)