BAGHDAD – Setelah penarikan pasukan Amerika Serikat dari pangkalan udara Ain al Asad di Irak Barat, tentara Irak kini sepenuhnya mengambil alih pangkalan utama sebagai implementasi kesepakatan dengan Pemerintah Irak pada Sabtu (18/1/2026). Washington dan Baghdad sepakat pada tahun 2024 mengakhiri koalisi pimpinan AS dalam memerangi kelompok ISIS di Irak pada September 2025, dengan pasukan AS meninggalkan pangkalan tempat mereka ditempatkan.
Dilaporkan oleh ABC, unit kecil penasihat militer dan personel pendukung AS tetap berada di sana. Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani pada bulan Oktober mengatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan awalnya menetapkan penarikan penuh pasukan AS dari pangkalan udara Ain al-Asad di Irak barat pada bulan September. Tetapi perkembangan di Suriah sejak saat itu mengharuskan mempertahankan unit kecil yang terdiri dari 250 hingga 350 penasihat dan personel keamanan di pangkalan tersebut. Namun, sejak Sabtu lalu semua personel AS yang tersisa itu telah pergi.
Kepala Staf Angkatan Darat Irak, Letnan Jenderal Abdul Amir Rashid Yarallah, mengawasi pembagian tugas dan kewajiban kepada berbagai unit militer di pangkalan tersebut setelah penarikan pasukan AS dan pengambilalihan kendali penuh pangkalan oleh Angkatan Darat Irak.
Pernyataan itu menambahkan bahwa Yarallah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mengintensifkan upaya, meningkatkan kerja sama, dan berkoordinasi antara semua unit yang ditempatkan di pangkalan tersebut, sambil memanfaatkan sepenuhnya kemampuan dan lokasi strategisnya.
Seorang pejabat Kementerian Pertahanan yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang untuk berkomentar secara terbuka mengkonfirmasi bahwa semua pasukan AS telah meninggalkan pangkalan tersebut dan juga telah memindahkan semua peralatan Amerika dari sana.
Kepergian pasukan AS dapat memperkuat posisi pemerintah dalam diskusi seputar perlucutan senjata kelompok bersenjata non-negara di negara tersebut, beberapa di antaranya telah menggunakan kehadiran pasukan AS sebagai pembenaran untuk mempertahankan senjata mereka sendiri.
Dikutip dari The Independent, selama pasukan AS masih hadir di wilayah Kurdi semi-otonom Irak dan Suriah yang bertetangga, penarikan pasukan AS dari Ain al Asad dapat memperkuat upaya pemerintah Irak untuk melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata non-negara. Beberapa kelompok ini secara historis telah mengutip kehadiran pasukan AS sebagai pembenaran untuk mempertahankan senjata mereka sendiri. (Lina Nursanty)