KUALALUMPUR – Menghadapi konstelasi global yang semakin tidak jelas, Malaysia akan memulai serangkaian proyek pertahanan nasional, termasuk pengembangan “drone kamikaze” dan sistem laser, di bawah Kebijakan Industri Pertahanan Nasional (NDIP) yang baru. Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin mengatakan inisiatif ini akan memperkuat kapasitas industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.
Dikutip dari New Straits Times, proyek-proyek utama meliputi satelit yang dikembangkan secara lokal untuk mengambil alih layanan pertahanan nasional ketika kontrak saat ini berakhir pada tahun 2029, dan produksi sistem amunisi jelajah, atau drone kamikaze.
“Di antara inisiatif utama adalah penyediaan satelit yang dikembangkan secara lokal, pengembangan sistem pertahanan laser, dan pembangunan kemampuan untuk perakitan dan pembuatan sasis kendaraan darat,” katanya pada peluncuran kebijakan tersebut di Malaysia International Trade and Exhibition Centre, Rabu (22/1/2026).
Khaled mengatakan proyek-proyek tersebut mencakup produksi sistem radar pasif dan pengembangan simulator pertahanan. Ia mengatakan pemerintah berencana untuk membangun keahlian lokal dalam perakitan, perbaikan, dan pembuatan berbagai sistem senjata.
‘’Keberhasilan NDIP bergantung pada ekosistem yang komprehensif, yang melibatkan komitmen pemerintah, reformasi pengadaan, transfer teknologi yang efektif, dan penguatan penelitian dan pengembangan,’’ katanya. Reformasi utama dalam kebijakan ini adalah bahwa semua pengadaan pertahanan harus mencakup setidaknya 30 persen konten lokal.
Khaled mengatakan Program Kolaborasi Industri (ICP) akan diimplementasikan lebih agresif untuk menargetkan perusahaan lokal yang mampu memanfaatkan teknologi bernilai tinggi. “Penelitian dan pengembangan akan bertindak sebagai katalisator pertumbuhan dengan dukungan dana pemerintah dan ICP, termasuk melalui Institut Penelitian Sains dan Teknologi untuk Pertahanan,” katanya.

China Tawarkan QW-19
Akhir Agustus tahun lalu, China menawarkan QW-19 MANPADS yang diklaim dapat menghalau drone kamikaze. Dikutip dari Defence Security Asia, Malaysia, seperti banyak militer regional lainnya, tidak dapat mengabaikan persyaratan ini. Terutama karena Asia Tenggara menghadapi peningkatan pesat proliferasi drone, amunisi berpemandu presisi dan pesawat serang tingkat rendah.
Dalam lanskap operasional yang terus berkembang inilah MANPADS QW-19 buatan China, yang diklasifikasikan sebagai sistem generasi 3.5 disebut dapat tampil sebagai solusi yang kredibel bagi Angkatan Bersenjata Malaysia (MAF).
Dikembangkan oleh CASIC, atau China Aerospace Science and Industry Corporation, QW-19 menggabungkan teknologi pencari target canggih, elektronik modern, dan fitur anti-gangguan yang kuat yang dirancang untuk memastikan “keunggulan” taktis terhadap ancaman di ketinggian rendah yang semakin mendominasi medan perang global.
Sebagai bagian dari keluarga rudal Qianwei (Vanguard), QW-19 tidak hanya mewakili ambisi China untuk memodernisasi doktrin pertahanan udara berlapis Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), tetapi juga untuk memperluas jejaknya di pasar pertahanan global dengan solusi medan perang yang hemat biaya dan modern.
Jika Malaysia berencana mengakuisisi QW-19, maka sinyal politik yang jelas tentang semakin dalamnya hubungan strategis Kuala Lumpur dengan Beijing. Dengan mengintegrasikan QW-19 ke dalam persenjataannya, Malaysia akan secara signifikan meningkatkan kemampuannya untuk mencegah UAV musuh, amunisi jelajah, dan helikopter beroperasi di ketinggian rendah, sehingga memperkuat postur pencegahannya di wilayah udara yang diperebutkan seperti Laut Cina Selatan. (Lina Nursanty)