JAKARTA – Diskusi Kebijakan Ruang Siber Amerika Serikat (AS) dan Indonesia menegaskan komitmen bersama untuk memajukan keamanan siber dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Terkait hal tersebut, Amerika Serikat juga mengumumkan bantuan baru untuk Indonesia berjumlah USD10 juta atau sekitar Rp167,6 miliar.
Diskusi keamanan siber ini mempertemukan pejabat senior, para pakar teknis, dan perwakilan dari kedua negara. Dari pejabat AS, terlihat Wakil Asisten Menteri Luar Negeri (Asmenlu) AS bidang Bantuan Keamanan Kawasan, dan Diplomasi Publik di Biro Asia Timur dan Pasifik Robert Koepcke, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar AS di Jakarta Peter Haymond, dan Panglima Garda Nasional Hawaii BrigJen Tyson Tahara. Adapun, dari pihak RI hadir Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.
Wakil Asmenlu AS bidang Bantuan Keamanan Kawasan, dan Diplomasi Publik di Biro Asia Timur dan Pasifik Robert Koepcke yang memimpin delegasi AS menekankan kepentingan strategis kerja sama AS– Indonesia dalam bidang kebijakan siber, menangani penipuan daring (online), dan melawan kejahatan siber.
Sedangkan, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar AS di Jakarta Peter Haymond yang turut mendampingi Wakil Asmenlu menyoroti kerja sama siber bilateral yang kuat selama beberapa tahun ini. “Penipuan daring, perangkat pemeras (ransomware), dan serangan siber berdampak pada kita semua dan menimbulkan kerugian bagi orang-orang yang sudah bekerja keras,” kata KUAI Haymond.
“Bersama, kita bisa membangun benteng pertahanan melawan penjahat siber untuk melindungi warga negara dan kemakmuran ekonomi kita,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, AS juga mengumumkan bantuan baru untuk Indonesia, yang kini berjumlah 10 juta dolar AS atau sekitar Rp167,6 miliar. Program-program ini akan menjadi wujud komitmen Nota Kesepahaman Keamanan Siber bilateral dan bukti keberhasilan Kemitraan Strategis Komprehensif, termasuk Rencana Aksi Keamanan Siber. Hasil-hasil nyata ini akan semakin memperkuat keamanan kedua negara dan melindungi kemakmuran masyarakat Amerika dan Indonesia melalui:
Pertama, Menampilkan Keunggulan Siber Amerika: Para ahli dari perusahaan keamanan siber Amerika akan melatih dan membekali pemerintah Indonesia dengan perangkat yang dibutuhkan untuk melawan serangan siber dan aktivitas siber lain yang berbahaya dari musuh-musuh asing.
Kedua, Perlindungan Infrastruktur Penting: Pertahanan siber yang lebih baik akan melindungi infrastruktur penting Indonesia, memitigasi ancaman-ancaman yang dapat menghambat rantai pasokan perdagangan global, yang dapat merugikan warga negara dan bisnis AS.
Ketiga, Melawan Kejahatan Siber: Peningkatan kerja sama penegakan hukum bilateral akan mengganggu dan mencegah pelaku kejahatan terorganisasi lintas negara yang semakin sering melakukan penipuan kepada warga di kedua negara.
Keempat, Meningkatkan Keamanan Kawasan: Semakin eratnya kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara akan meningkatkan kapabilitas siber kawasan dan memajukan kawasan Indo-Pasifik yang stabil, aman, dan makmur. (Dwi Sasongko)