Iran Siaga Tinggi, Sekuat Apa Negeri Ayatullah Tersebut Jika Diserang AS?

Perempuan-perempuan mengambil swafoto di Museum Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Teheran, 12 November 2025. Iran tidak akan mundur dengan ancaman Amerika Serikat (AS), genderang perang telah berada di ujung tanduk. Foto : middle-east-online
Teheran saat ini menyiapkan dua skenario sekaligus: menghadapi potensi konflik bersenjata dan membuka ruang diplomasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Share the Post:

TEHERAN – Militer Iran berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat, meskipun upaya diplomatik masih terus dijajaki. peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah Abas Aslani menilai kesiapsiagaan ini dipengaruhi pengalaman sebelumnya, ketika proses negosiasi dengan AS tetap disertai aksi militer terhadap Iran.  

“Kami telah mendengar dari sumber-sumber Iran bahwa sektor militer berada dalam mode siaga tinggi. Mereka siap untuk perang baru,” ujar Aslani kepada kepada Al Jazeera.  

Karena itu, menurutnya, Teheran saat ini menyiapkan dua skenario sekaligus: menghadapi potensi konflik bersenjata dan membuka ruang diplomasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan keberhasilan diplomasi dengan Washington sangat bergantung pada dihentikannya sikap dan tindakan militer yang mengancam, terutama setelah pengerahan kekuatan besar AS di kawasan Teluk. Ia menekankan bahwa niat baik dan penurunan tensi menjadi prasyarat utama bagi setiap inisiatif dialog.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan belum ada rencana pertemuan atau komunikasi dengan pejabat AS karena syarat pembicaraan dinilai belum terpenuhi. Namun demikian, Teheran tetap melanjutkan konsultasi dengan sekutu dan mitranya, serta menyatakan optimisme yang hati-hati terhadap kemungkinan terbentuknya kerangka baru untuk perundingan di masa mendatang.

Iran telah melemah secara signifikan akibat serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) tahun lalu. Ditambah dengan keresahan domestik akhir-akhir ini, pilihan yang tersedia bagi Iran semakin terbatas. Namun, sejumlah ahli memperkirakan serangan balasan Iran tidak hanya akan berkutat pada aksi militer dalam menghadapi ancaman AS yang kini telah mendatangkan kapal induknya di Selat Persia. 

Bagaimana Teheran memilih untuk menggunakan alat-alat yang dimilikinya bergantung pada tingkat ancaman yang dirasakannya. “Rezim Iran memiliki banyak kemampuan yang dapat digunakan jika mereka melihat ini sebagai perang eksistensial,” kata Farzin Nadimi, seorang peneliti senior di Washington Institute yang mengkhususkan diri dalam urusan keamanan dan pertahanan Iran dikutip dari CNN

Salah satu kekuatan Iran yaitu kepemilikan rudal dan drone. Iran diyakini memiliki ribuan rudal dan drone dalam jangkauan pasukan AS yang ditempatkan di sejumlah negara di Timur Tengah dan telah mengancam akan menyerang mereka, serta Israel. 

Pada bulan Juni, setelah Israel melancarkan serangan mendadak, Iran mampu membalas dengan menembakkan gelombang demi gelombang rudal balistik dan drone ke Israel yang menimbulkan kerusakan dengan melewati pertahanan udara Israel yang canggih. 

Para pejabat Iran mengklaim bahwa banyak persediaan senjata yang digunakan dalam perang tersebut telah diisi kembali, dan para pejabat AS percaya bahwa senjata-senjata yang telah teruji dalam pertempuran, serta jet tempur Rusia dan Amerika yang sudah tua, terus menimbulkan ancaman.

Misalnya, drone bunuh diri Shahed milik Iran telah terbukti menjadi alat yang merusak dalam perang Rusia di Ukraina. Rezim Iran juga telah mengembangkan, menguji, atau mengerahkan lebih dari 20 jenis rudal balistik, termasuk sistem jarak pendek, menengah, dan jauh yang mampu mengancam target hingga ke Eropa selatan.

“Kami memiliki 30 hingga 40.000 pasukan Amerika yang ditempatkan di delapan atau sembilan fasilitas di wilayah itu. Semuanya berada dalam jangkauan ribuan UAV (drone) satu arah Iran dan rudal balistik (jarak pendek) Iran yang mengancam kehadiran pasukan kami,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. 

Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa kemampuan militer Teheran, meskipun kalah jumlah dan jauh lebih tua daripada sistem modern AS, membuat serangan AS yang menentukan terhadap negara itu jauh lebih sulit.

Teheran telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka akan membalas dendam terhadap sekutu AS di kawasan itu jika diserang. Ketika pesawat pengebom AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada musim panas, Iran meluncurkan serangan rudal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Qatar, menargetkan Pangkalan Udara al-Udeid, instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah.

: Di atas grafis rudal yang kemungkinan dimiliki Iran. Foto : missilethreat.csis.org

Cara yang kedua, yaitu memobilisasi proksi. Selama dua tahun terakhir, Israel telah menghancurkan jaringan proksi regional Iran, secara signifikan membatasi kemampuan rezim untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya. Namun, para proksi telah bersumpah untuk membela Iran.

Kelompok-kelompok Irak seperti Kataeb Hezbollah dan Harakat al-Nujaba — milisi yang telah menargetkan pasukan AS di masa lalu — serta Hizbullah Lebanon, mengatakan minggu ini bahwa mereka akan membantu Iran jika diserang.

Pada hari Minggu, Abu Hussein al-Hamidawi, komandan Kataeb Hezbollah, menyerukan kepada para loyalis Iran di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi perang habis-habisan untuk mendukung Iran. 

Kelompok Houthi di Yaman telah menjadi sasaran Israel dan AS, tetapi tetap menjadi salah satu proksi Iran yang paling merusak, dan juga telah mengindikasikan bahwa mereka akan membela pelindungnya. Akhir pekan lalu, Houthi merilis video yang menunjukkan gambar kapal yang dilalap api, disertai dengan keterangan singkat, “Segera.”

Dengan dukungan Iran selama beberapa tahun terakhir, kelompok ini telah menyerang Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel, serta kapal-kapal Amerika di Laut Merah.

Ketiga, yaitu dengan cara perang ekonomi. Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa perang melawannya tidak akan terbatas di Timur Tengah tetapi akan mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Meskipun secara militer kalah, Teheran memiliki pengaruh dalam kemampuannya untuk mengganggu pasar energi dan perdagangan global dari salah satu wilayah yang paling sensitif secara strategis di dunia.

Iran, salah satu produsen energi terbesar di dunia, terletak di Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilalui lebih dari seperlima minyak dunia dan sebagian besar gas alam cair. Rezim tersebut telah mengancam akan menutupnya jika diserang. Sebuah potensi yang menurut para ahli dapat menyebabkan harga bahan bakar melonjak jauh di luar perbatasan Iran dan memicu penurunan ekonomi global. (Lina Nursanty)