TEHERAN – Ancaman Amerika Serikat (AS) yang akan menyerang Iran tidak membuat Negeri Ayatollah tersebut gentar. Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei memperingatkan bahwa setiap perang yang diprakarsai AS terhadap Iran akan berubah menjadi perang regional.
Dalam pidatonya di hadapan massa besar di Hussainiya Imam Khomeini pada Sabtu (31/1/2016), Khamenei mengatakan bahwa retorika terbaru AS tentang perang dan pengerahan aset militer bukanlah hal baru. “Orang-orang Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, maka itu akan menjadi perang regional,” ujarnya seperti diberitakan oleh Press TV. Dia menegaskan bahwa ancaman dan unjuk kekuatan militer tidak akan mengintimidasi bangsa Iran.
“Kadang-kadang mereka berbicara tentang perang dan menyebut pesawat serta kapal perang; ini bukan hal baru,” kata Khamenei. Sebab, para pejabat AS berulang kali mengancam Iran di masa lalu dengan mengatakan bahwa “semua opsi ada di atas meja, termasuk opsi perang.”
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, Khamenei mengatakan, “Bangsa Iran tidak perlu takut dengan hal-hal semacam ini; rakyat Iran tidak terpengaruh oleh ancaman seperti itu.”
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menjadi pihak yang memulai perang apa pun, namun memperingatkan akan adanya respons tegas terhadap setiap agresi. “Kami bukan pihak yang memulai [perang], dan kami tidak ingin menyerang negara mana pun, tetapi bangsa Iran akan memberikan pukulan keras kepada siapa pun yang menyerang dan mengganggunya,” katanya.
Pada bagian lain pidatonya, Pemimpin Revolusi menggambarkan kerusuhan yang baru-baru ini terjadi di seluruh Iran sebagai “mirip dengan kudeta,” seraya mengatakan bahwa rencana tersebut bertujuan menghancurkan pusat-pusat penting dan strategis yang terlibat dalam penyelenggaraan negara.
Ia mengatakan para pelaku menyerang kantor polisi, pusat pemerintahan, fasilitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bank, dan masjid, bahkan membakar Alquran, namun menegaskan bahwa upaya tersebut pada akhirnya berhasil digagalkan.
Pemimpin Revolusi juga menyatakan bahwa rakyat Iran telah memadamkan bara api fitnah Amerika–Zionis terbaru hingga menjadi abu, sebagaimana mereka mengalahkan konspirasi-konspirasi sebelumnya, dan menambahkan bahwa bangsa Iran akan menghadapi setiap tantangan di masa depan secara tegas.
Khamenei menyebut pengembalian negara kepada pemilik sejatinya—rakyat—serta pemutusan pengaruh Amerika Serikat dari Iran sebagai salah satu ciri utama Revolusi Islam, seraya mengatakan bahwa hal ini membuat Washington marah dan gelisah, serta mendorongnya sejak awal untuk bersikap bermusuhan terhadap bangsa dan sistem Iran.
Adapun dari Washington, Presiden Donald Trump mengatakan pada Sabtu bahwa Iran sedang bernegosiasi dengan Amerika, bahkan ketika kepala militer Republik Islam itu memperingatkan Washington agar tidak melancarkan serangan militer. “(Iran) sedang berbicara dengan kita, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi… Kita memiliki armada besar yang menuju ke sana. Mereka sedang bernegosiasi,” katanya kepada Fox News, Minggu (1/2/2026).
Sekutu AS di kawasan Timur Tengah tidak diberitahu tentang rencana kemungkinan serangan AS karena alasan keamanan. Trump telah mengancam akan campur tangan di Iran setelah penindakan brutal terhadap protes anti-pemerintah. “Ya, kita tidak bisa memberi tahu mereka rencananya. Jika saya memberi tahu mereka rencananya, itu hampir sama buruknya dengan memberi tahu Anda rencananya—bahkan bisa lebih buruk,” katanya. Washington telah mengerahkan Gugus Tempur Angkatan Laut yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln di lepas pantai Iran.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani—yang mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya—mengatakan bahwa kemajuan sedang dicapai menuju negosiasi. “Bertentangan dengan gembar-gembor perang media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan,” kata Larijani.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berusaha menyampaikan nada ganda, yaitu peringatan dan pengekangan, dengan mengatakan bahwa Teheran tidak mencari konflik dengan AS. Menurutnya, perang tidak akan menguntungkan kedua belah pihak. “Republik Islam Iran tidak pernah mencari, dan sama sekali tidak mencari, perang, dan sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini,” kata Pezeshkian. (Dwi Sasongko)