GAZA – Belum lama bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump, Israel melakukan serangan udara terhadap warga Gaza pada Sabtu (31/1/2016). Sedikitnya 32 warga Palestina tewas dan lima lainnya terluka dalam serangkaian serangan udara Israel yang menargetkan berbagai wilayah di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir.
Anadolu melaporkan pertahanan Sipil di Gaza dalam pernyataan terbarunya mengonfirmasi bahwa serangan Israel sejak Sabtu dini hari telah menewaskan 32 warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan. ‘’Lima warga Palestina—tiga anak-anak dan dua perempuan—tewas dan lainnya terluka akibat serangan udara Israel yang menghantam sebuah apartemen hunian di lingkungan Rimal, Gaza City bagian barat,’’ kata sumber medis kepada Anadolu.
Menurut paramedis di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, tujuh warga Palestina lainnya—seorang pria, tiga putranya, serta tiga cucunya yang masih kecil—tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan sebuah tenda tempat pengungsian warga di wilayah Asdaa, barat laut Khan Younis di Gaza selatan.
Sejumlah warga Palestina juga dilaporkan terluka dalam serangan Israel yang menargetkan sebuah apartemen hunian di lingkungan al-Tuffah, Gaza City bagian timur.
Jet tempur Israel juga melancarkan serangan udara di Jalan al-Jalaa, barat laut Gaza City, serta dua serangan di timur kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan tersebut.
Militer Israel mengeklaim, serangan itu dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata Hamas. Meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS memasuki fase kedua awal bulan ini, kekerasan di wilayah Palestina terus berlanjut. Israel dan Hamas pun saling menuduh melanggar perjanjian tersebut.
Seorang koresponden Anadolu melaporkan bahwa jet tempur Israel melakukan serangan udara terhadap gedung administrasi kamp “Ghaith”, yang menampung ratusan pengungsi, di dekat Perguruan Tinggi Al-Ribat di Jalan 2, kawasan Al-Mawasi, Khan Younis.
Koresponden tersebut menyebutkan bahwa serangan itu terjadi setelah peringatan evakuasi dikeluarkan oleh militer Israel dan didahului oleh serangan sebelumnya dari pesawat nirawak Israel.
Dalam sebuah pernyataan, Pertahanan Sipil Palestina di Khan Younis mengatakan bahwa tim mereka “berhasil mengendalikan kebakaran yang terjadi di tenda-tenda pengungsi di kamp Ghaith” setelah serangan oleh pesawat tempur.
Menurut saksi mata yang dikutip Anadolu, serangan tersebut menyebabkan kerusakan material yang luas pada tenda-tenda, bahkan menghancurkan sebagian di antaranya.
Dalam serangan terpisah, Otoritas Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan secara singkat bahwa pesawat tempur Israel menargetkan kantor polisi Sheikh Radwan di Gaza City bagian barat, yang mengakibatkan tewas dan terluka sejumlah polisi dan personel.
Sumber medis juga mengatakan kepada Anadolu bahwa 13 warga Palestina tewas dalam serangan Israel yang menargetkan kantor polisi Sheikh Radwan di Gaza City bagian barat. Menurut Pertahanan Sipil Palestina, empat polisi perempuan termasuk di antara para korban.
Saksi mata mengatakan kepada Anadolu bahwa operasi pencarian masih berlangsung untuk sejumlah orang yang diduga tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang diserang.
Sumber medis lainnya menyebutkan bahwa tiga warga Palestina tewas dalam serangan Israel yang menargetkan sebuah rumah di lingkungan al-Nasr, Gaza City bagian barat. Seorang pria Palestina juga tewas akibat tembakan Israel di wilayah timur Jabalia, Gaza utara, menurut sumber medis lainnya.
Namun, militer Israel dalam sebuah pernyataan mengklaim bahwa mereka menargetkan empat anggota Hamas dan Jihad Islam, serta infrastruktur milik kedua kelompok tersebut di Jalur Gaza. Pada Jumat, militer Israel menewaskan lima warga Palestina dalam sejumlah insiden terpisah.
Menurut kantor media Gaza, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada awal Oktober, tindakan Israel telah menewaskan 524 warga Palestina dan melukai 1.360 lainnya, serta melakukan 1.450 pelanggaran. Dalam perkembangan terkait, kantor media tersebut menyatakan bahwa militer Israel telah menangkap 50 warga Palestina sejak perjanjian berlaku, dengan penahanan dilakukan di wilayah yang jauh dari “garis kuning” serta dari dalam kawasan permukiman.
Terkait protokol kemanusiaan, kantor tersebut mengatakan bahwa Israel telah mengizinkan masuknya 28.927 truk bantuan, komersial, dan bahan bakar dari total 66.600 truk yang ditetapkan dalam perjanjian, atau tingkat kepatuhan sebesar 43%.
Perjanjian tersebut mengakhiri perang Israel selama dua tahun yang menewaskan hampir 71.800 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.400 orang. Serangan itu telah menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil di Gaza, dengan perkiraan biaya rekonstruksi menurut PBB mencapai sekitar 70 miliar dolar AS. (Dwi Sasongko)