Perjanjian Nuklir AS–Rusia Berakhir, Dunia Hadapi Risiko Perlombaan Nuklir Tanpa Kendali

Berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) tahun 2025, Amerika Serikat dan Rusia menguasai hampir 90 persen dari total senjata nuklir dunia, dengan jumlah gabungan lebih dari 10.500 hulu ledak. Foto : stimson.org
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut New START sebagai “kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk.” Melalui media sosial Truth Social, Trump mengatakan bahwa alih-alih memperpanjang perjanjian tersebut, AS sebaiknya menyusun perjanjian baru yang lebih modern dan kuat dengan melibatkan para ahli nuklir.
Share the Post:

JAKARTA –  Kekhawatiran akan munculnya kembali perlombaan senjata nuklir global menguat setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir utama antara Amerika Serikat dan Rusia, New START, resmi berakhir pada 5 Februari 2026. Berakhirnya perjanjian ini menandai berakhirnya era pembatasan persenjataan nuklir antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Tanpa perjanjian New START, yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir aktif masing-masing negara hingga 1.550 unit, tidak ada lagi batasan hukum yang mengikat terhadap persenjataan nuklir AS dan Rusia. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan perlombaan senjata nuklir tanpa kendali, seperti yang pernah terjadi pada era Perang Dingin.

Para pakar menilai situasi semakin berisiko karena hingga kini tidak ada pembicaraan antara Washington dan Moskwa mengenai perjanjian pengganti. Akibatnya, kedua pihak harus menebak-nebak kemampuan dan niat masing-masing, yang meningkatkan potensi salah perhitungan dan eskalasi.

“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, dunia menghadapi situasi tanpa batasan yang mengikat atas persenjataan nuklir strategis Amerika Serikat dan Rusia,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari nbcnews. Ia menyebut kondisi ini sebagai momen serius yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut New START sebagai “kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk.” Melalui media sosial Truth Social, Trump mengatakan bahwa alih-alih memperpanjang perjanjian tersebut, AS sebaiknya menyusun perjanjian baru yang lebih modern dan kuat dengan melibatkan para ahli nuklir.

Berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) tahun 2025, Amerika Serikat dan Rusia menguasai hampir 90 persen dari total senjata nuklir dunia, dengan jumlah gabungan lebih dari 10.500 hulu ledak.

Sementara itu, China saat ini diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir. Meski jumlahnya masih jauh di bawah AS dan Rusia, persenjataan nuklir China tumbuh paling cepat di dunia, dengan penambahan sekitar 100 hulu ledak baru per tahun sejak 2023. Jika digabungkan, persenjataan nuklir ketiga negara tersebut dinilai cukup untuk menghancurkan kehidupan di Bumi berkali-kali.

Mike Albertson, mantan perunding New START, mengingatkan bahwa sejarah Perang Dingin menunjukkan betapa berbahayanya asumsi keliru antarnegara. “Banyak persaingan mahal di masa lalu dipicu oleh persepsi yang salah tentang kekuatan pihak lain,” ujarnya. Berakhirnya New START pun dinilai membuka kembali babak ketidakpastian strategis global, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.

Masa ketidakpastian baru dalam pengendalian senjata nuklir ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya asing. Sebelum runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat dan Rusia—saat itu masih Uni Soviet—pernah beberapa kali berada dalam periode tanpa perjanjian pengendalian senjata strategis utama.

Pada masa pemerintahan Presiden Jimmy Carter, Amerika Serikat menunda ratifikasi sebuah perjanjian nuklir sebagai bentuk protes atas invasi Uni Soviet ke Afghanistan. Meski demikian, kedua negara sepakat tetap mematuhi ketentuan perjanjian tersebut selama masa transisi, hingga akhirnya perjanjian itu resmi berlaku.

Namun, para analis menilai situasi saat ini jauh lebih kompleks. Hubungan Amerika Serikat dan Rusia memburuk akibat perang di Ukraina. Pada saat yang sama, China muncul sebagai kekuatan besar dengan persenjataan nuklir yang terus berkembang. Kombinasi faktor tersebut meningkatkan risiko global dan memberi tekanan politik kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghasilkan kesepakatan pengendalian senjata yang baru. (Dwi Sasongko)