Trump Sebut Perang Iran Berlangsung 4 – 5 Pekan dan Bisa Lebih Lama

Sebuah drone sedang meluncur menuju sasaran. Iran banyak menggunakan drone yang berbiaya murah untuk menyerang target di Israel maupun pangkalan AS di Timur Tengah. Foto : x.com/defense_civil25
‘’Program rudal balistik Iran tumbuh cepat dan dramatis, dan ini menimbulkan ancaman yang sangat jelas dan besar terhadap Amerika serta pasukan kami yang ditempatkan di luar negeri,’’ kata Trump.
Share the Post:

WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa rencana awal perang melawan Iran “diproyeksikan berlangsung empat hingga lima minggu”, seraya menambahkan bahwa militer AS memiliki “kemampuan untuk berjalan jauh lebih lama dari itu”.

Berbicara pada Senin dari Gedung Putih, Trump memaparkan pembenaran pemerintahannya untuk berperang melawan Iran bersama Israel. Ia menyebut Iran menimbulkan “ancaman besar” bagi AS, sembari kembali mengklaim bahwa serangan AS ke Iran pada Juni tahun lalu telah “menghancurkan total program nuklir Iran”.

‘’Program rudal balistik Iran tumbuh cepat dan dramatis, dan ini menimbulkan ancaman yang sangat jelas dan besar terhadap Amerika serta pasukan kami yang ditempatkan di luar negeri,’’ kata Trump dikutip dari Aljazeera. 

“Rezim itu sudah memiliki rudal yang mampu menjangkau Eropa dan pangkalan kami, baik di kawasan maupun di luar negeri, dan segera akan memiliki rudal yang mampu mencapai Amerika kita yang indah,” kata Trump, mengulang klaim yang kerap disampaikan pemerintahannya menjelang serangan Sabtu lalu, meski pejabat pemerintah AS belum memberikan bukti atas pernyataan tersebut.

Menurut hukum domestik AS maupun hukum internasional, serangan terhadap negara asing harus dilakukan sebagai respons atas ancaman yang bersifat segera. Berdasarkan Konstitusi AS, hanya Kongres yang dapat menyatakan perang, sementara presiden dapat bertindak sepihak jika menghadapi ancaman yang bersifat segera.

Trump telah merilis dua pidato video sejak AS dan Israel memulai serangan, termasuk dalam pesan rekaman yang dirilis kemarin yang menyebut Iran telah melancarkan perang terhadap peradaban.

Ia juga memprediksi kemungkinan akan ada lebih banyak korban dari personel militer AS setelah Pentagon mengonfirmasi tiga anggota militer tewas di Timur Tengah pada Minggu (1/3). Sejauh ini, sedikitnya 555 orang dilaporkan tewas di Iran, 13 di Lebanon, 10 di Israel, tiga di Uni Emirat Arab, dan dua di Irak. Oman, Bahrain, dan Kuwait masing-masing melaporkan satu korban jiwa di tengah serangan balasan Iran di kawasan.

Pada Senin (2/3), tak lama setelah Pentagon mengonfirmasi kematian anggota militer AS keempat, Trump tidak memberikan garis waktu yang jelas mengenai operasi tersebut.

Ia mengatakan, “Sejak awal, kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk berjalan jauh lebih lama dari itu.”

Trump menambahkan bahwa proyeksi awal militer adalah empat minggu untuk “mengakhiri kepemimpinan militer” Iran.

Hingga kini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya, termasuk kepala Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), telah dikonfirmasi tewas dalam serangan AS-Israel. “Kami jauh lebih cepat dari jadwal dalam hal itu,” tandasnya.

Trump berbicara tak lama setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menjawab pertanyaan wartawan untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai.

Hegseth tampaknya menanggapi kekhawatiran dari basis pendukung Trump sendiri, gerakan “Make America Great Again” (MAGA), terkait potensi keterlibatan dalam perang berkepanjangan.

Selama kampanye presidennya, Trump berjanji mengakhiri intervensi militer AS di luar negeri dan lebih memfokuskan perhatian pada kebutuhan domestik. “Ini bukan Irak. Ini bukan tanpa akhir,” kata Hegseth. “Operasi ini adalah misi yang jelas, menghancurkan, dan menentukan. Hancurkan ancaman rudal, hancurkan angkatan laut, tidak ada nuklir,” ujarnya.

“Israel juga memiliki misi yang jelas, dan untuk itu kami adalah mitra yang bersyukur dan mampu,” tambahnya, tanpa merinci misi Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah lama menyerukan penggulingan pemerintahan Iran. (Dwi Sasongko)