WASHINGTON – Serangan yang dilakukan bersama Israel ke Iran telah menguras dana yang besar bagi Amerika Serikat (AS). Enam hari pertama perang di Iran sedikitnya telah menghabiskan setidaknya USD 11,3 miliar atau lebih dari Rp 186 triliun hanya untuk amunisi.
Data tersebut merupakan perkiraan Pentagon yang ditinjau oleh para anggota parlemen. Para ahli memperingatkan bahwa biaya tersebut dapat meningkat secara eksponensial seiring berlanjutnya konflik. ‘’Jumlah itu belum termasuk biaya operasional dan pemeliharaan kekuatan militer yang terlibat dalam perang, maupun kerusakan yang dialami akibat serangan balasan Iran,’’ begitu keterangan seperti dilansir USA Today.
Menurut seorang sumber yang mengetahui estimasi tersebut, militer AS menghabiskan sekitar USD 5,6 miliar untuk amunisi hanya dalam dua hari pertama konflik. Biaya amunisi itu pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.
Pengeluaran untuk amunisi, serta potensi biaya tambahan akibat kerusakan infrastruktur militer AS setelah serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika, tidak termasuk dalam anggaran tahunan Pentagon yang mencapai sekitar USD 1 triliun.
Dengan adanya kekurangan ini, Presiden Donald Trump dapat meminta tambahan anggaran kepada Kongres Amerika Serikat untuk membiayai perang tersebut. Namun hingga kini belum ada permintaan resmi yang diajukan.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang secara mendadak mengakhiri setidaknya satu tahun perundingan antara pemerintahan Trump dan Iran terkait program nuklir negara itu. Sejak saat itu, pasukan AS dan Israel telah menewaskan sejumlah pemimpin politik dan militer Iran serta melancarkan kampanye pengeboman yang menewaskan lebih dari 1.300 warga Iran.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan, yang menewaskan tujuh personel militer AS dan melukai sedikitnya 140 orang lainnya.
Pemerintahan Trump menolak memberikan jadwal pasti mengenai berapa lama perang ini akan berlangsung. Pada 9 Maret, Trump mengatakan bahwa operasi militer tersebut “hampir selesai” dan akan berakhir “sangat segera,” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai waktunya.
Sehari kemudian, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dalam konferensi pers bahwa “hari ini sekali lagi akan menjadi hari paling intens dalam serangan kami di dalam wilayah Iran.” Pentagon sendiri menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai total biaya perang tersebut.
AS Veto Usulan Rusia
Amerika Serikat pada Rabu (11/3) memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang disusun Rusia menyerukan gencatan senjata di Timur Tengah dan mengecam serangan terhadap warga sipil. RIA Novosti melaporkan Latvia juga menentang resolusi tersebut. Sembilan lainnya abstain, sementara empat negara anggota mendukung.
Mengutip Antara, dokumen yang diserahkan oleh Rusia itu meminta “semua pihak” untuk segera menghentikan permusuhan “di Timur Tengah dan sekitarnya.” Rancangan tersebut juga mengecam semua serangan terhadap warga sipil dan menyerukan semua yang terlibat dalam eskalasi untuk kembali melakukan diplomasi. Meski tidak menyebutkan negara mana pun.
Selain itu, dokumen tersebut juga mencatat “pentingnya menjamin keamanan semua negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.”
Dalam pembukaannya, DK PBB menyatakan kesedihan atas korban tewas dalam konflik tersebut dan menegaskan kembali larangan penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah suatu negara. Sebelumnya, DK PBB pada hari yang sama Rabu telah mengadopsi resolusi yang dirancang Bahrain berisi tuntutan agar Iran mengakhiri serangan terhadap negara-negara Teluk. (Dwi Sasongko)