JAKARTA – TNI Angkatan Laut resmi melepas pelayaran perdana Kapal Bantu Hidro-Oseanografi terbaru, KRI Canopus-936, dari Jerman menuju Indonesia pada Sabtu (14/3). Pelayaran Kapal Bantu Hidro-Oseanografi terbaru milik TNI Angkatan Laut ini menandai langkah penguatan kapasitas survei hidro-oseanografi nasional sekaligus dukungan terhadap penyediaan data dan informasi maritim yang lebih akurat
Upacara pelepasan KRI tersebut turut dihadiri oleh Koordinator Fungsi Politik KBRI Berlin serta perwakilan Abeking & Rasmussen Shipyard. Pelayaran ini dilaksanakan setelah menyelesaikan seluruh tahapan pembangunan dan pengujian di galangan Abeking & Rasmussen, Lemwerder, Jerman.
Selama perjalanan menuju tanah air, kapal akan menempuh rute pelayaran jarak jauh dengan beberapa persinggahan di pelabuhan internasional untuk keperluan logistik, koordinasi teknis, serta memastikan kesiapan operasional kapal hingga tiba di Indonesia.
Momentum tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan KRI Canopus-936 sebelum nantinya resmi memperkuat armada survei Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal). Kehadirannya diharapkan mampu meningkatkan kapasitas survei hidro-oseanografi nasional, karena kapal ini dirancang untuk mendukung pengumpulan data kelautan, pemetaan dasar laut, serta penelitian hidro-oseanografi guna menyediakan informasi maritim yang akurat.
Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Dr. Budi Purwanto menyambut baik kehadiran KRI Canopus-936 ini. ‘’Pengoperasian kapal survei modern ini akan semakin memperkuat pelaksanaan tugas Pushidrosal, baik sebagai lembaga hidrografi militer maupun sebagai lembaga hidrografi nasional, khususnya dalam menyediakan data dan informasi hidro-oseanografi, berupa peta laut maupun buku-buku publikasi nautika guna mendukung keselamatan navigasi pelayaran, operasi TNI AL, serta pengelolaan wilayah perairan Indonesia,’’ papar Budi Purwanto.
Untuk diketahui, Prosesi Shipnaming, Delivery, Upacara Peresmian KRI, serta Pengukuhan Komandan KRI Canopus-936 dipimpin Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksdya TNI Erwin S. Aldedharma, bertempat di Galangan Abeking & Rasmussen, Lemwerder, Jerman, Kamis (12/2/2026).
KRI Canopus-936 merupakan Kapal BHO Ocean Going atau kapal Survei Hidro-Oseanografi, dimana program pembangunan kapal ini dilaksanakan selama tiga tahun. Dalam tradisi penamaannya, kapal Hidro-Oseanografi yang diawaki oleh 93 prajurit Jalasena pilihan ini menggunakan nama bintang sebagai simbol penunjuk arah bagi para pelaut, sekaligus harapan akan keselamatan dan kepastian navigasi di laut. Kolonel Laut (P) Indragiri Yani Wardhono dikukuhkan sebagai Komandan KRI Canopus-936.
Dalam rangkaian shipnaming, kapal BHO (Ocean Going) secara resmi diberi nama KRI Canopus-936, dilanjutkan dengan pelaksanaan penandatanganan berita acara serah terima (delivery) kapal dari pihak galangan kepada Pemerintah Indonesia hingga resmi diserahkan kepada TNI AL sebagai pengguna operasional. Momentum tersebut menjadi tonggak penting dalam penguatan kapasitas TNI AL, khususnya dalam mendukung operasi hidrografi dan oseanografi di wilayah perairan yurisdiksi nasional maupun perairan internasional.

Kolaborasi Strategis RI-Jerman
Indonesia resmi menambah kekuatan maritimnya dengan kehadiran kapal riset canggih KRI Canopus-936, yang diluncurkan dan diserahterimakan pada Kamis (12/02) di galangan Abeking & Rasmussen, Bremen, Jerman. Kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) berteknologi tinggi ini menjadi simbol nyata modernisasi pertahanan Indonesia sekaligus tonggak penting kolaborasi strategis Indonesia–Jerman.
Mengutip Kemlu.go.id, KRI Canopus-936 menghadirkan kemampuan riset kelautan yang sebelumnya belum dimiliki Indonesia. Dengan teknologi sensor bawah laut mutakhir, kapal ini mampu memetakan dasar laut hingga kedalaman 11.000 meter, menembus palung terdalam samudera. Kapal ini juga dilengkapi Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dan Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk misi pengumpulan data di area ekstrem yang sulit dijangkau manusia.
Selain kemampuan riset, kapal sepanjang 105 meter ini dirancang untuk operasi jarak jauh dan mampu berlayar hingga 60 hari nonstop, menjadikannya aset strategis dalam menjaga keamanan navigasi, perlindungan lingkungan laut, hingga mendukung strategi pertahanan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani, menegaskan bahwa KRI Canopus-936 bukan sekadar kapal riset, tetapi pusat integrasi data kelautan nasional yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim besar. “KRI Canopus-936 adalah lompatan besar bagi Indonesia. Kapal ini bukan hanya memperkuat kapasitas TNI AL, tetapi juga membuka era baru kemandirian data kelautan Indonesia. Kolaborasi Indonesia–Jerman dalam proyek ini menunjukkan bahwa kemitraan strategis dapat menghasilkan inovasi nyata bagi keamanan dan masa depan bangsa,” ujar Duta Besar RI untuk Jerman.
Pembangunan kapal ini berlangsung selama 36 bulan melalui kerja sama erat antara PT Palindo Marine (Indonesia) dan Abeking & Rasmussen (Jerman). Proyek ini tidak hanya menghasilkan kapal berteknologi tinggi, tetapi juga memastikan terjadinya transfer teknologi yang memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional. (Dwi Sasongko)